Beib, Ayo Kita Bulan Madu Ke China


ssst..waspadalah, tulisan ini bisa mengantarkan anda baper luar biasa terutama jika belum ada pasangan halalnya. :)

Di saat menopang dagu, bayangan itu kembali terlintas di kepalaku. Hampir 20 tahun yang lalu, takdir mengantarkan dia sehingga bisa duduk di hadapanku. Wajahnya letih. Dia memakai sweater berwarna biru dongker tua. Ada resleting di bagian dadanya yang tertutup rapat. Apakah dia tidak berkeringat? Karena suasana kereta api saat itu begitu padat.

Aku bercengkerama asyik dengan Anita dan Rini, kedua teman kos yang sama-sama berasal dari Jawa. Sesekali mataku beradu pandang dengannya, lelaki bersweater biru itu. Tapi, tiap kali itu terjadi, dia buru-buru menunduk atau menatap lurus ke depan. Atau membetulkan posisi duduknya yang bersandar di kursi seorang penumpang.

Ini kali kedua, aku akan menempuh perjalanan panjang antara Bandung dan Surabaya dengan naik kereta api Mutiara Selatan. Pertama, aku pergi dari Surabaya bersama ibu, bapak dan pakde. Mereka mengantarkanku yang akan menempuh studi di institut teknologi yang ada di jalan Ganesha.

Sekitar beberapa bulan kemudian, aku kembali naik kereta itu. Tapi kali ini aku akan pulang ke Surabaya, bersama teman kosku, yang berasal dari Jombang dan Nganjuk. Baru saja seperempat perjalanan, aku sudah menangkap kehadirannya. Pemuda itu.

Karena perjalanan sudah mulai terasa membosankan, plus pedagang keliling sudah pada turun, aku mencari kegiatan lain pengalih kejenuhan. Entah karena dorongan apa, kok tiba-tiba aku menyapanya,

"kok duduk di bawah mas, nggak kebagian tiket ya?"

Pemuda itu mengangguk dan tersenyum. Sekali lagi ia membenahi posisi duduknya. Dan kereta pun terus melaju, seiring kami yang bertukar kata menyebutkan nama, sesaat ketika aku akan turun di stasiun Gubeng Surabaya.

"Hen, Heni," sebuah suara memanggil di belakangku.

Aku kaget sekali, tak menyangka akan bertemu lagi di stasiun Bandung, ketika aku kembali lagi sendirian setelah liburan seminggu di rumah.
Tanpa diminta, dia mengangkat dua kerdus oleh-oleh dari ibu dan membantuku sampai masuk ke angkot dan menuju tempat kos.

Seperti mimpi.
Ataukah takdir?
Pertama ketemu di gerbong kereta. Lalu berpisah begitu saja.
Kedua bertemu di ujung pintu gerbong kereta. Bertemu begitu saja.
Apakah Goblin turut andil mempertemukan aku dan dia?
Ya ampun, kisahku ketemu sama jodoh kayak drama Korea aja.

Aku tertawa jika mengingatnya.
Apalagi dia, pemuda bersweater biru yang kemudian menjadi suamiku.
Dia paling demen menceritakan momen aku menyapanya di dalam gerbong kereta itu tadi. Terutama bercerita kepada dua anak lelaki kami yang sudah beranjak remaja.

"mama yang nyapa bapak duluan loh"

Paling sebel kan?
Bisa meruntuhkan pencitraanku sebagai perempuan yang harusnya manis manja meronah. Malu malu tapi mau. Lah kok ini yang menyapa duluan. Mau ditaruh dimana mukaku?
Haduuh...nggak ada penyesalan seberat itu deh.
Ngapaiin juga aku nyapa diaaa.....
Gara-gara GOBLIIIIIN....pasti ini gara-gara kamu Blin !!!

Nggak gini juga sih kejadiannya :) - [ minjem foto dari sini ]


Aih, telat banget kali kalau menyebut penyesalan. Kami sudah menikah hampir 16 tahun. Jika ditotal dengan waktunya proses pra-nikah yang 4 tahun itu, kami udah ketemu hampir 20 tahun. Teruus aja berdua. Nggak pake putus nyambung putus nyambung kayak lagunya Raffi Ahmad di grupnya BBB.

"Kok nggak bosan sih Hen?"
Selaluuu aja. Kayak wajib aja ya, pertanyaan ini muncul di semua temanku kalau udah tau kisah cintaku dengan suamiku ini. SKIP aja deh, SKIP.
Aku ini perempuan SUPER SETIA. Biarpun gaya gerakku tomboy and kayak laki banget , kesetiaanku benar-benar tidak bisa digoyahkan.

Ups, tapi. Dia bosen nggak ya sama aku?

Waduuh, Bebeiib...bosen nggak sama aku Beib?

Biar nggak bosan, kita bulan madu aja yuk Beib. Kita ke CINA. Iya, ayo kita rancang liburan kesana tahun ini. Kita kudu jadi pergi kesana. Sebelum anak sulung kita, beneran terbang ke Cina untuk nerusin kuliah.

Dari Jombang ke Cina

Kebetulan banget, hari Minggu kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke calon sekolahnya anakku di daerah Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Tepatnya di SMK TELKOM DARUL ULUM JOMBANG.

Ketika ngobrol dengan Kepala Sekolahnya, beliau mengatakan bahwa di sekolahan ini akan ada projek setelah lulus yang bekerjasama dengan universitas di Cina. Yaitu program beasiswa sekolah saja, atau sekolah sambil bekerja. Anakku langsung senyum tipis dengan binar mata tertarik dengan program itu. Memang dari kecil dia ingin sekali bisa kuliah di luar negeri. Biar merantaunya melebihi bapak dan ibunya gitu.

Nah kan Beib, sebelum anak kita beneran kesana, kita aja yaa yang terbang ke Cina duluan. Kita survey dulu kondisinya disana bagaimana. Kondisi masyarakat muslimnya bagaimana. Tempat ibadahnya gimana. Anak kita bakal mudah nggak nyari makanan halal. Nyari masjid buat sholat, terutama sholat jum'at. Karena dia laki kan wajib jum'atan.


Temanku bilang nih Beib, Cheria Travel ini udah terpercaya banget dijadikan rujukan untuk memfasilitasi niat kita piknik yang MUSLIM Friendly banget. Bakal ditunjukkan rute wisata yang bagus untuk lahir batin kita. Teratur untuk urusan ibadah sehari-hari seperti sholat dan gimana menjaga kebersihan. Plus selalu diberikan link untuk mendapatkan makanan yang halal. 


Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia 




Kalau belum jelas, coba klik video ini deh Beib. Makin pengen kan terbang ke China? Ayo beneran kita pergi kesana. Rencana bulan madu kita ke Jogja kan belum terwujud. Ya kan? ya kan?
Kita cuma sempat mampir bentar disana. Lalu nggak bisa kesana sampai anak kita ada dua dan jadi remaja. 

Udah deh, nggak jadi ke Jogjanya. Kita ke China aja dulu. Sekalian memberikan pengalaman pertama menginjak daratan China untuk anak-anak. Biar kalau udah giliran berangkat sendiri kesana, mereka udah lebih pede dan berani. Sekalian juga maksudku nih, kalau kita ikutan Cheria Travel, bisa minta link netoworking ke mereka untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di China. Biar anak kita, makin banyak dapat orang dewasa yang bisa jadi jujukan jika terjadi apa-apa gitu loh. 

Nggak usah kuatir Beib, aku dah nemu nih Paket Tour Wisata Halal China


Add caption
Nah, paket Tour China ini jalurnya dari Jakarta ke Beijing. Biar seru, dari Surabaya, kita naik kereta api ke Jakarta. Nah waktu di kereta api itu, kita bikin photoshoot. Reka adegan waktu kamu dan aku ketemu pertama kalinya. Plus ketemu kedua kalinya secara tak sengaja. Lalu naik kereta berdua selama LDR-an itu. Ah pasti asik Beib. Biar anak-anak yang megang kameranya. Sekalian buat mengakrabkan keluarga mini kita ini.

Gimana? setuju ya. Nanti kita bulan madu ke China aja ya. 
Oke, deal !



Lomba Menulis Artikel Cheria Wisata


Reuni Tanpa Syarat


Bisa ketemu lagi, dengan teman satu SMA, setelah pisah 20 tahun yang lalu itu rasanya luar biasa istimewa. Nano Nano.

Bayangkan coba, puluhan tahun nggak pernah kopdar. Alasannya, pertama, ketika lulus SMA saya kuliah di Bandung, yang jaraknya ratusan kilometer dari Jombang Jawa Timur. Kedua, walaupun setelah lulus kuliah saya balik lagi ke Surabaya, sekalipun saya nggak pernah sempat ikutan acara reuni. Lah, mereka ini sadis bener. Selalu bikin acara reuni di malam takbiran, malam menjelang hari raya Idul Fitri. Ya impossible banget bisa ikutan. Karena itu adalah jadwal saya 'terbang' ke rumah ibu  mertua. Yang ketiga, saya jarang sekali ke Jombang kecuali lebaran. Malah beberapa tahun ini, saya tidak ikut jadwal kesana karena sesuatu hal. Kali ini istimewa, karena ibu saya ingin kembali tinggal di tanah kelahirannya, Jombang, maka kesempatan saya datang lagi di kota Beriman ini, ada lagi. 

Dan, akhirnya hari itu tiba. Tanpa terlalu banyak rencana, saya akhirnya  ketemu dengan beberapa teman alumni satu sekolah di SMA Negeri 2 Jombang. Dulu kami tidak satu kelas. Malah ada beberapa teman, yang marah-marah, karena saya lupa sama sekali dengan dia. Entahlah, memori saya tentang nama dan wajah teman sekolah kok kayak didelesi oleh sesuatu. 

Sempat saya mengira, memori saya ilang karena sebagian otak saya kongslet. Error. Sejak mengalami shock yang cukup dalam, ketika anak kedua saya mendadak dinyatakan sebagai bayi prematur. Aih, nanti saya tulis lebih lengkap tentang hal ini ya. *aah jadi baper T_T

Tetapi, teman saya yang dokter, dan waktu itu datang menjemput saya di rumah ibu di Jombang, berkelakar. Dia mengatakan, bahwa memori yang hilang itu karena instruksi dari otakku sendiri. Katanya, saya memerintahkan otak untuk menghapus memori yang saya anggap tidak penting. Dan hanya menyimpan yang penting. Ah, entahlah, yang penting ketemu mereka dan mereka ingat saya temannya gitu aja deh, hehehe.




 Kopdar semakin menarik, karena dalam pertemuan itu rencananya saya akan Sharing tentang Blogger dan cara membuat BLOG. Antusias teman-teman tentang dunia yang saya geluti sekarang itu bikin hati makin semriwing aja. Seneng gitu. Walaupun pengenalan bloggingnya tak terlalu maksimal karena terbatas waktu, saya optimis bisa terus mengembangbiakkan virus blogging ini ke penjuru Jombang dan sekitarnya. Ayo Jombangers, semangat ndaaa...


That kind of short talk filled my heart enough. Menakjubkan sekali bisa bertemu teman lama. Bertemu nyata. Menyentuh mereka, memeluk, berbicara bertatapan muka. Tidak bisa digantikan dengan ratusan menit chatting di sosial media. Yes, blogger juga manusia euy. Butuh ketemu sesamanya saja, tidak hanya bergaul di dunia maya di depan laptopnya. 

Alhamdulillah, teman saya, menemui saya tanpa syarat apapun. 

Tak ada pertanyaan, saya kerja apa, berkarir apa. Semenakjubkan apa. Ataupun se-gagal apa.

 Kami hanya bertemu, bercerita ngalor-ngidul dan makan aneka rupa. Kalaupun ada cerita yang menyiratkan hal itu, kami sikapi dengan humor dan tertawa lebar. Mungkin, di usia segini, kami sudah bisa menerima jalur hidup masing-masing. 

Mau jadi dokter kek, pustakawan universitas atau ibu Lurah kek. Semua sama. Walaupun juga ada yang menjadi "icon" paling hits di Tembelang, bahkan bos mebel Jombang atau owner olshop tas branded dari Batam pun, semua melebur jadi satu. Bercerita sebagai IBU RUMAH TANGGA.

Tak ada syarat visual apapun juga. Ga pake setting dress code. Celana jins, kaos Coding Mum dan cardigan plus jilbab kucelku pun diterima dengan lapang dada. Walaupun hampir semuanya berbusana muslimah sejati, syar'i dan menawan hati. Saya tidak menerima tatapan sinis atau nyinyir dari ujung kepala ke ujung kaki, seperti yang sering saya terima jika ada dalam lingkungan itu. They don't judge me by my cover :)


Ah teman, semoga kelak bisa sering ke Jombang. Dan menebarkan manfaat disana. Sebagai tanda bakti saya pernah numpang hidup disana ketika SMA. 

Komik LINE Webtoon dan Sex Education Untuk Anak di Rumah

"Ma, aku mau bikin komik di Webtoon ah,"
Begitu kata anak sulung saya di depan bak cuci piring.

Sambil memeras kaos saya yang basah karena kecipratan air kran saat mencuci piring, saya nyengir kuda dan menjawab, "wah asik. Webtoon apa'an sih? bisa dilihat di browser?"

 "Pake LINE ma," gitu jawab anakku. "LINE? kamu donlot LINE sekarang?".

 Ya, tanpa babibubebo saya pun ikutan mendonlot LINE, sebuah messenger yang makin banyak dipakai anak muda. Setelah itu, saya menginstall Webtoon juga.


Ngapain Sih Latah Pake LINE & Webtoon Segala Mak?


 Nggak ada hal yang paling menyeramkan bagi saya, kecuali anak laki-laki saya berada di jalur yang nggak bener. Misalnya merokok, narkoba, kriminalitas ala geng motor dan pornografi sekaligus sex bebas.

Kalau teman lain memilih pasang BENTENG blokade semua akses yang berpotensi "bahaya" untuk anak.

Saya memilih pasang FILTER. Saya rela rempong mengakses hal itu bersama anak, duduk di samping anak, dan jika ada yang kurang benar nantinya akan saya bicarakan bersama anak saya.

Cara saya ini tentu tidak sama dengan teman lain dalam menerapkan sistim parenting. Saya juga tidak membuka akses perdebatan. Karena model parenting itu tidak bisa disamaratakan seperti rumus menghitung sudut bangun datar, harus saklek. Situasi, kondisi, keadaan ekonomi, spiritual, budaya, dan lain sebagainya mempengaruhi gaya parenting keluarga.

Satu hal yang sangat saya pegang kuat adalah bahwa saya tidak bisa menggunakan pola parenting jaman dulu. Dimana antara orang tua dan anak terdapat jarak yang sangat jauh. Tidak bisa curhat, tidak bisa bercanda atau bahkan main bersama.

Kali ini, saya ingin sekali menjadi TEMAN ANAK sampai kapan pun umurnya nanti. Oleh karena itu, di setiap ide atau hal baru yang ingin mereka cicipi, saya ikutan juga nyemplung disana. Kadang rempong juga deh sebenarnya, tapi nggak papalah, demi anak.

Komik Webtoon dan SEX Education

Ketika saya mendengar kata Webtoon, spontan yang terbesit sih ketakutan jangan-jangan disitu banyak komik porno. Jadi, malam itu juga saya nguprek tuh Webtoon. Eh, malah cekikikan dan terkagum-kagum sendiri sih.

Ceritanya banyak yang lucu. Dan gambar komiknya itu loh, alus dan bagus bangeet, kayak komik Si OCONG. . Kok ya mau penulis komik ini susah-susah upload hasil karyanya di Webtoon tanpa dibayar to? amazing deh.
Maklum emak-emak mikirnya udah dagang aja nih, hahaha.

Eh tapi, kata anak saya. Kalau masih di Webtoon Challenge sih, emang gratisan. Tapi kalau komikusnya udah layak standar, maka akan direkrut jadi Komikus Tetap oleh Webtoon, dan itu dapat "gaji". 

Kembali pada kecemasan akan pornografi, saya buka komik berjudul Pengantin Gaje. Wah dari judulnya rada gimana gitu kan? nah pas saya buka, itu ternyata cerita pengantin baru yang mengalami konflik kecil yang lucu-lucu. Memang ada sedikit adegan dewasa, namun sebelum tayang, ada peringatan tertulis bahwa gambar itu untuk UMUR 17 TAHUN KE ATAS. Kalau di klik Lanjut, baru bisa muncul.Tapi adegannya tidak vulgar kok. Saya harapkan memang ada kebijakan sih di Webtoon Indonesia ini, karena saya belum eksplor banyak komik lagi.

Memang, kita nggak akan bisa menjamin anak-anak kecil atau remaja dibawah umur 17 tahun, yang mengakses komik semacam itu, akan menaati aturan. Akan berhenti dan tidak melihat gambar. Nah disinilah pengawasan orang tua dan pendampingan harus dilakukan.

Kalau ada hal begini, biasanya malah saya manfaatkan untuk mengenalkan dan membicarakan tentang SEX EDUCATION.

Hari gini, akses google dan share di sosial media sangat tinggi, mustahil anak kita tidak terpapar hal berbau pornografi. Bahkan jika tidak mengakses pun, akan mendengar dari cerita teman bermainnya, seperti anak saya yang kedua. Saya punya cara yang mengadopsi ilmu parenting dari bu Elly Risman dan beberapa psikolog lainnya. Serta dengan gaya karakter keluarga kami sendiri. Begini strategi saya mengenalkan dan membicarakan SEX EDUCATION ke anak lelaki saya.

  1. Sex education awal adalah mengenali dirinya sendiri. Dan tentang siapa saja yang boleh memegang area tubuh dan tidak. Hal ini ketika anak masih kecil-kecil, sebelum kelas 3 SD.
  2. Sejak kecil saya melarang anak menjadikan guyonan anggota tubuh perempuan. Misalnya tentang "breast", akan saya katakan bahwa itu diciptakan untuk memberikan ASI kepada bayi, sehingga bisa sehat. Bukan untuk ditertawakan. Intinya saya mewajibkan anak lelaki saya menghormati perempuan, bahkan sejak mereka kecil.
  3. Jika ada adegan dewasa seperti "kissing" yang kadang nyelonong di film kartun lucu sekalipun, maka saya tidak mendadak menutup matanya lalu membentak melarang. Jika mereka terlanjur melihat, akan saya bilang, "itu boleh saja kok, asal sudah menikah. Kalau nggak menikah, ya kayak hewan aja di kartun itu bukan manusia."
  4. Ketika anak bertanya tentang hubungan orang dewasa, saya akan menjawabnya ala guru Biologi. Ilmiah aja menjawabnya. Tidak pake cekikikan malu-malu. Atau langsung memutus obrolan dengan bilang, "hush, itu saru, nggak sopan, dosa, diam, kamu jangan aneh-aneh, sekolah aja yang bener!". Saya tidak memilih itu, saya akan menjawab saja, sepotong-sepotong sesuai pertanyaannya. Tidak perlu menjawab sangat detil karena anak belum tentu ngeh dengan pertanyaan dan jawaban kita. Jika mereka tidak bertanya, ya sudah, kita berhenti bicara.
  5. Hal ini wajiib dan saya tekankan berkali-kali. Yaitu, anak wajib cerita apa saja yang terjadi, yang dia lihat, yang bikin dia merasa aneh, takut, senang atau apapun, kepada saya. Supaya jika ada apa-apa, saya bisa segera mengatasi dan mencari jalan keluarnya. 
Itulah sharing cara saya "berbicara" kepada dua anak lelaki saya tentang hal yang dulu sangat "saru" untuk dibicarakan antara anak dan orang tua. Apalagi antara IBU dengan anak lelakinya.

Sempat saya ragu dan bingung, Ternyata tidak ada masalah jika IBU membicarakan hal ini dengan anak lelakinya. Asal sebelumnya kita sudah punya kedekatan batin yang cukup baik. Dan itu memang harus dibina sejak mereka masih kecil. 

Semoga saja, dengan cara ini anak saya bisa mempunyai FILTER yang baik. Sehingga jika kelak misalnya berhadapan dengan lingkungan yang sangat buruk, atau merantau ke luar negeri dan melihat temannya berperilaku sex bebas, mereka bisa menentukan dan menyaring sendiri, mana perbuatan yang baik dan tidak. Tentu dengan koridor TAUHID yang sangat kuat. 

"Kalau nanti kalian keliling kemana-mana, mama sudah nggak bisa lihat dan ngawasi. Tapi Alloh SWT kan selalu bisa melihat kalian, nak. Ingat ya. Malu, kalau kita aneh-aneh. Sama Alloh SWT sudah dikasih tangan, kaki, badan lengkap. Jadi yang baik-baik saja ya. Jadi mandiri lalu bantu orang lain."

Udah, itu itu aja yang saya ulang-ulang bicarakan ke anak-anak. 
Harap maklum juga, saya mah apa atuh. Hanya emak-emak biasa bukan Mamah Dedeh. Ilmu agama saya masih cetek bangeet. Semoga dengan keterbatasan ini itu, saya sudah memberikan tools yang baik dan benar untuk anak di masa depannya. 

Ah, gitu aja ya. Kalau teman-teman gimana ke anak lelakinya? 
Kalau ke anak perempuan gimana ya? makin parno apa kalian ya mak-emaak? 


Kembali ke komik Webtoon, akhirnya inilah hasil karya anak saya yang sulung itu. Nih anak, emang dari kecil suka bikin komik. Webtoon oke juga untuk menyalurkan minat anak yang suka menggambar dan bikin komik. Asal tetap didampingi ya mak emak...



Semoga bermanfaat ya.

Salam,

Heni Prasetyorini

Menabung Emas Agar Masa Depan Anak Tak Lagi Bikin Was-Was

 "what is important for kids to learn is that no matter how much money they have, earn, win, or inherit, they need to know how to spend it, how to save it, and how to give it to others in need. This is what handling money is about, and this is why we give kids an allowance. (Barbara Coloroso)

 Dua anak lelaki saya sudah terbiasa dengan kata hemat, ngirit dan menabunglah dulu jika butuh sesuatu. Garis bawah pada kata "butuh" bukan "ingin". Untuk mendapatkan suatu barang, perlu komunikasi dan kompromi yang panjang antara saya,suami dan anak-anak. Bahkan dengan kebiasaan ini, anak sulung saya lebih parah lagi. Dia supeeer ngirit.

Anak ini rela lapar di sekolahan dan hanya kenyang dari acara makan besar, makan nasi beserta lauk pauknya. Tidak ada acara beli jajan kek, es mambo kek. Pokoknya cuma makan aja. Demi apa? ternyata demi menabung uang jatah bulanannya secara diam-diam.

Saya sebagai emak, antara seneng, bangga juga kuatir.
Seneng dan bangga karena nih anak bakal aman masa depannya. Karena terbiasa menabung dan tidak hura-hura beli hal yang nggak penting. Kuatirnya kalau dia sampai kurus kering demi menahan lapar, untuk bisa menabung.

Konsep hemat yang sudah tertanam ini, sebenarnya hasil didikan dari ibu saya. Apalagi ibu jaman dulu ya, kalau nabung hanya dianjurkan satu hal, menabung emas!

Sebelumnya ya cuma ngikut saran ibu, untuk membeli perhiasan emas lalu memakainya. Sayangnya kadang kan karena pemakaian jadi luntur, juga resiko ilang. Akhirnya setelah mengenal adanya Pegadaian Tabungan Emas di pegadaian.co.id saya mendapatkan alternatif baru cara menabung emas.

dapet juga nih tabungan emas :)
Teman saya yang memberitahukan hal ini. Menarik juga ya konsepnya. Kita menabung uang, nanti disetarakan dengan emas. Kalau mau penarikan tabungan, bisa berupa uang atau berupa emas batangan. Kalau mau ambil bentuk emas batangan, akan ada biaya percetakannya.

Saya pikir, kalau konsep gitu, pasti buka tabungannya mahal seperti bank pada umumnya. Dan males banget kalau tabungan kita lama-lama habis kesedot biaya admin. Eh, ternyata nggak loh. Untuk Pegadaian Tabungan Emas, awalnya cuma habis duit 22 ribu aja. Udah dapet emas senilai 0,0110 gram seharga Rp.5.460,- (kan harga emas mengikuti tren toko emas terbaru juga).

Ah ya, nggak mahal, okelah nanti bisa nabung dikit demi sedikit. Sekitar nabung 50ribuan, waktu longgar, kan lumayan. Nabung dikit-dikit gitu juga nggak khawatir bakal habis kesedot biaya admin. Karena, kata pak petugas tadi nih, biaya admin per bulan itu nggak ada alias NOL rupiah. Hanya ada biaya admin per tahun, cuma 30 ribu aja. Wis sip, mantep lah. Buat nabung sisa belanja, kan aman.


setelah ini, emaknya bisa bekerja dengan lebih tenang
Jadi begitulah, sejak mengenal Tabungan Emas di pegadaian, saya mulai beralih nggak beli emas dalam bentuk perhiasan. Saya pun berencana mengajak anak untuk ikutan ngisi tabungan ini, dari simpenan uang jajannya. Kebetulan nih kantor Pegadaian, dekat banget sama sekolahan anak.

Saya perkirakan, jika satu bulan saya rajin menabung minimal 300 ribu aja. Kelak waktu anak saya yang SD udah mau kuliah, bisa lumayan tuh tabungan saya. Bisa buat bekal dia mau kuliah atau modal bisnisnya.

Pegadaian pasti kinerjanya profesional, jadi bisa dibilang tabungan emas kita aman disana. Proses pencairan juga mudah, jika suatu saat kita butuh. Kalau anda penasaran bisa datang ke kantor cabang Pegadaian terdekat, lalu mintalah informasi tentang hal ini. Pasti dibantu banget. Tempo hari, saya malah dilayani oleh pak satpam. Saya tinggal nyerahin KTP dan uang 22ribu ke beliau. Lalu duduk manis, kemudian dipanggil petugas teller, tanda tangan ini itu, selesai. Cepet nggak pake ribet.

Nah, daripada nabung perhiasan emas di rumah trus kepikiran mending cobain deh Pegadaian Tabungan Emas. Semoga dengan cara ini, apapun kebutuhan keluarga dan anak-anak kita di masa depan, nggak bikin kita was-was.

Cara Mudah Menjual Apartemen Secara Online


Ada begitu banyak apartemen dijual di luar sana. Namun sayangnya, tidak semua apartemen tersebut diminati oleh pembeli. Bahkan tak jarang, ada juga apartemen yang tak kunjung laku. Kurangnya minat pembeli terhadap apartemen ini bisa disebabkan karena harganya yang terlampau mahal. Selain itu, faktor lain yang bisa mempengaruhi misalnya kurangnya fasilitas, tingkat keamanan yang kurang baik, dan lain sebagainya.
Nah, jika Anda mengalami kesulitan menjual apartemen secara langsung, mengapa tak mencoba menerapkan strategi lain? Misalnya menjual apartemen secara online. Namun sebelum itu, perhatikan beberapa hal berikut ini:

1.     Memanfaatkan media sosial
Dengan adanya media sosial saat ini, kita dapat memasarkan barang apapun dengan  semakin mudah. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu tentang bagaimana cara memanfaatkan media sosialnya untuk mempromosikan barang dagangan. Tidak hanya sekadar melakukan promosi, tapi ada strategi pemasaran seperti memasang Facebook Ads, Instagram Ads, atau Promote Twitter.

2.     Memasarkan melalui forum
Tempat nongkrong orang-orang sekarang ini tidak hanya di café, tapi juga di forum online. Biasanya, orang-orang yang memiliki hobi yang sama akan berkumpul secara di forum-forum online tertentu, misalnya forum jual beli rumah atau forum apartemen . Jadi, Anda bisa dengan mudah menawarkan properti berupa apartemen Anda tersebut di forum-forum yang jual beli apartemen tersebut. Dengan begitu, kemungkinan apartemen Anda laku pu lebih besar pula.

3.     Beriklan di Google
Anda juga dapat menggunakan layanan iklan dari Google bernama Google Adwords. Dengan menggunakan Google Adwords, iklan Anda akan sering muncul di halaman pertama Google. Semakin besar dana yang Anda alokasikan untuk iklan ini, semakin banyak pula orang yang akan melihat iklan tersebut. Dengan begitu, kemungkinan terjualnya apartemen dijual yang Anda tawarkan pun semakin besar.

4.     Pemasaran melalui agen
Jika Anda tidak bisa memanfaatkan media sosial, forum online, serta beriklan secara digital seperti menggunakan Google Adword, Anda bisa serahkan urusan pemasaran apartemen Anda kepada agen property yang sudah handal. Mereka umumnya sudah menguasai strategi marketing online dengan memanfaatkan semua source yang ada sekarang.
Sayang sekali jika Anda tidak memanfaatkan semua yang sudah ada di era digital saat ini. Orang sudah terbuka dengan dunia online. Jadi, semakin mudah untuk menemukan calon konsumen Anda secara online.
Agar pemasaran semakin efektif dan apartemen Anda terjual dengan mudah, hubungi saja agen profesional agar apartemen dijual atau dipasarkan secara efektif. Semoga bermanfaat!




Independensi Ala Ibu Rumah Tangga

 It takes nothing to join the crowd. It takes everything to stand alone

Perlu keberanian berdaya ribuan kilo Joule, untuk memutuskan sebagai "independent". Tidak mudah mengatur hati, diri dan motivasi ketika bekerja sendiri. Apalagi jika alasannya adalah segala bentuk pekerjaan dan amanahmu sebagai ibu rumah tangga.


Kok gitu sih?
Anak-anak dihandle suaminya dong, gantian.

Manja banget sih anaknya?
Suruh mereka berangkat sendiri.


Pernah mendapatkan komentar seperti ini? 
Kalau saya sudah khatam, :)

Yaa, begitulah. Yang memahami perasaan ibu rumah tangga, ya.... mereka yang mengalami sendiri sebagai ibu rumah tangga 100% persen, tanpa asisten rumah tangga, tanpa siapapun yang bisa dititipi anaknya jika ditinggal.

Yang belum pernah merasakannya, mungkin akan lebih sulit paham, kenapa IRT itu mudah banget membatalkan janjinya, HANYA karena alasan anaknya sakit.
Atau susah diajak janjian karena alasan terbentur jadwal anaknya ikut lomba mewarnai atau sedang ujian tengah semester di sekolah.

Terdengar sangat remeh temeh, bagi mereka yang tidak tahu seberapa penting hal tersebut bagi kelangsungan hidup sebuah rumah tangga.

Proses Menjadi Independent


Menerima Diri Sendiri
Saya pernah masuk dalam momen putus asa ketika tidak bisa "join the crowd". Tidak bisa berkumpul, berkarya dan bekerja bersama-sama dengan kebanyakan orang. Di komunitas blogger, saya tak punya nyali karena susah sekali bertemu muka. Alasannya apa lagi, kecuali waktunya berbenturan dengan jadwal antar jemput anak sekolah. Apalagi jika acaranya mulai ba'da Maghrib. Itu adalah hal yang mustahil.

DEPRESI banget deh, asli.
Tapi, mau gimana lagi itulah tipe rumah tangga saya. Mengubahnya tidak bisa seperti sulap. Harus ada kesepakatan, pembiasaan dan perbincangan yang cukup panjang.
Ya, saya bertipe rumah tangga jadul, kuno, konservatif dan apalah sebutannya, Just Name It.




Terinspirasi Blind Coder (Programmer Tuna Netra)

Apa iya kita harus depresi terus?
Nggak jalan kemana-mana dong.

Saya tersengat dengan cerita ketika saya ikut acaranya Female Geek tantang programnya mengajari para tuna netra membuat website.

Mbak Anne mengatakan, programmer tuna netra ini berhasil membuat website.

Wow, bayangkan.
Saya saja memahami coding web design, merasa kesulitan dan mudah berhenti. Ini mereka yang mendengarkan code dan kerja komputer lewat suara, bisa berhasil.

Mereka punya banyak keterbatasan, tapi mereka bisa melaju terus. Lah, aku ini? sehat walafiat, normal semuanya. Kenapa harus berhenti hanya gara-gara tidak bisa pergi kemana-mana?
Memangnya kerja di balik meja, di dalam rumah tidak bisa menghasilkan apa-apa?
Tidak bisa mencapai kualitas yang baik?

Fokus Pada Kekuatan Diri
Baiklah, saya sudah mengesampingkan semua kesempatan yang lewat karena saya tidak bisa leluasa "join the crowd". Maka, saya fokus meningkatkan potensi diri, menambah ilmu pendukung profesi dan mengasah skill saya sampai mumpuni.

Saya memilih fokus di satu hal. Yaitu TEKNOLOGI.
Teknologi maksudnya seputar teknologi informasi, yaitu digital learning, digital writing, coding, blogging beraroma coding dan startup. Untungnya keluarga saya mempunyai toleransi dan dukungan besar dengan proses belajar. Jadi, saya bisa mengikuti even serupa seminar dan workshop.

Berani Berkata TIDAK
Karena memilih fokus di dunia IT, maka saya harus meneguhkan hati untuk berkata tidak pada hal-hal yang diluar tema saya. Karena waktu untuk keluar rumah tidak banyak, saya harus memilih dengan hati-hati. Keberanian ini juga mendapatkan respon beragam. Ada yang menghargai, ada juga yang berkomentar melemahkan. Sudahlah, anggak saja itu hukum alam.

Kerja Keras Tak Pernah Mengkhianati
Sunatullah berlaku disini. Siapa yang bekerja bersungguh-sungguh, akan menuai hasil yang ditunggu. Saya seribu persen yakin akan hal itu. Maka, saya atur strategi agar semua yang saya hasilkan bisa meningkat kualitasnya. Ketika menulis artikel di blog, saya usahakan isinya semakin berbobot. Saya melakukan riset yang cukup banyak, membaca beberapa artikel, membaca sejarah, mencari quote, mencari sudut pandang berbeda dan hal lain penting lainnya.

Saya membeli buku tentang Copywriting. Saya mengunduh aneka jenis ebook tentang elearning, startup, web design atau apalah yang ingin saya pahami lebih. Saya lakukan itu dengan ZERO MIND. Walaupun postingan itu tidak berbayar, jika topiknya mendukung fokus saya, akan saya lakukan sepenuh hati.

Saya berhati-hati sekali mengelola sosial media. Menahan diri sekuat tenaga tidak mudah membagikan berita viral atau berkomentar, jika itu tidak berkaitan atau mendukung fokus saya. Saya memilih mengalihkan atau mengisi beranda dengan nada motivasi dan inspirasi. Biarlah dianggap tidak update berita, tidak peduli, tidak berdoa; toh cara berdoa itu tidak dengan menuliskannya di status sosial media.

Dan sedikit demi sedikit, usaha kita menunjukkan hasilnya. Orang-orang yang mau bekerjasama dan membutuhkan jasa kita, ternyata datang sendiri karena kualitas yang mereka amati selama ini.


Puncak Independensi Ala Ibu Rumah Tangga
stand alone bravefully
Ketika prestasi kita sudah mulai nampak, mulailah banyak orang yang datang menawari kerjasama. Disini kita harus tetep pasang kepala dingin, waspada tidak jumawa.
From nothing to something, dari nggak dikenal lalu disapa saja, kita bisa merasa wah. Apalagi, jika orang datang, memuja muji kita dan ingin menggunakan jasa kita dalam projeknya.

Awalnya saya merasakan itu. Mudah merasa wah. Dan mudah berkomitmen dengan siapa saja yang katanya membutuhkan bantuan saya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya harus berpikir lebih bijak.
Projek yang menuntut waktu yang panjang, tidak berani saya ambil. 

Saya tidak berani ikut dalam projek jangka panjang yang menuntut meeting berkali-kali, sosialiasi berhari-hari, berkeliling dan pergi kemana-mana. Jika posisi saya masih muda, anak kuliahan atau baru lulus, okelah diajak ini itu yang butuh banyak waktu. Lah, saya ini ibu rumah tangga. Prioritas terbesar masih anak dan keluarga.

Jadi mohon maaf. Daripada nanti ujung-ujungnya konflik, pada ngambek kalau saya nggak bisa meeting karena kudu antar jemput anak. Yaaa, mending saya mundur dan mempersilahkan mereka mengatur jadwal lagi jika membutuhkan saya.

Alhamdulillah, cara ini ternyata bisa juga berjalan. Ketika saya memberikan rambu-rambu, bahwa kalau ngajak saya nggak bisa meeting dadakan karena meninggalkan anak dan suami di rumah, harus dilakukan persiapan ini itu. Sebisa mungkin saya maksimalkan teknologi komunikasi berupa email, messenger atau cloud computing untuk berbagi data. Sehingga mengurangi intensitas untuk meeting kopdaran yang memakan waktu.

Saya pun punya keterbatasan untuk pergi kemana-mana. Alasannya karena saya ini ahli nyasar juga sering nervous sendiri kalau jaraknya udah kejauhan apalagi bakal pulang malam. Efek kelamaan kudu semedi di dalam rumah kali ya? :)

Makanya, teman saya di komunitas Blogger sering bercanda, kalau ngajak mbak Heni, pasti ditanya dulu, "tempatnya dekat rumah nggak?" heheheeh.
Karena mereka udah hafal, kalau lokasi acaranya cukup jauh, saya pasti melipir nggak berani daftar.

Begitulah, bagi teman-teman yang mengalami kesulitan yang sama seperti saya dalam ranah ibu rumah tangga; bisa berbagi rasa dengan saya disini. Tetaplah semangat meningkatkan kualitas diri. Dan yakinlah, kalau sudah rejeki pasti datang sendiri. 
Ibu rumah tangga, punya peluang juga berprestasi.

Salam,

Heni Prasetyorini

Buku Generasi Langgas Untuk Memahami Generasi Millenials Indonesia

Kepada orang tua yang memaksakan kehendak kepada anak. Apakah kalian, Tuhan?

Segmen 1
Dialog antara suami istri:
> Aku pikir, anak kita lebih baik memilih jurusan Farmasi. Nanti dia bisa bikin apotek sendiri.
< Biarlah anak memilih jalur hidupnya...
> Aku yang bekerja. Aku yang tahu kehidupan di luar sana. Kamu cuma di rumah, tau apa?

Segmen 2
Dialog antara bapak-anak
> Ngapain kamu milih jurusan itu? mau kerja apa? bakal cuma jadi kacung, gaji kecil
< Aku suka
> Kemarin bilang suka ini, sekarang ganti suka itu. Udah nurut bapak saja, bapak lebih tau.
> (diam)


Ah, panas hati saya setiap melihat segmen ini terjadi. Iya kalau itu jaman dulu bung, tahun 90-an. Sekarang sudah tahun Millenium. Banyak sekali perubahan yang terjadi di zaman digital ini. Orang tua nggak akan bisa mengejar ketinggalan. Anak-anak melesat begitu cepat.

Mereka lebih canggih teknologi.
Mereka lebih kreatif dan tinggi imajinasi.
Mereka tidak ingin lagi dikekang oleh siapapun.
Mereka bebas.
Mereka LANGGAS !!!

BUKU GENERASI LANGGAS

https://twitter.com/generasilanggas
https://instagram.com/generasilanggas

Apa itu Generasi Langgas?
Saya mengetahui terminologi Langgas ini baru ketika menonton acara Kick Andy Show, yang tayang setiap hari Jum'at malam di Metro TV.

Langgas artinya bebas. 
Generasi Millenials, yang lahir di era digital ini, berumur sekitar 25 tahun ke bawah, adalah termasuk generasi Langgas. 

Yoris, Penulis Buku Generasi Langgas
Yoris Sebastian, penulis buku Generasi Langgas menyebutkan bahwa dia melakukan riset selama hampir 6 tahun lebih untuk meneliti kecenderungan perilaku anak muda yang lahir di jaman millenial. Lalu dia mengamati beberapa tokoh anak muda produktif dan berprestasi, sebagai contoh generasi Langgas yang baik.




Selama menonton acara ini, saya kagum pada 2 hal. Pertama pada profil anak muda berprestasi yang ditampilkan. Kedua, pada Yoris yang kepikiran untuk meriset selama bertahun-tahun demi sebuah buku.

Menurut Yoris, alasan dia melakukannya adalah agar buku ini bisa menjadi pegangan untuk orang tua agar bisa memahami anak-anaknya yang lahir di era millenial. Sehingga bisa mengarahkan atau mendampingi mereka kelak menjadi pribadi yang utuh dan produktif.

Yang sangat dicemaskan oleh Yoris adalah, jika anak-anak ini diperlakukan dengan keliru. Maka ketika tiba masanya, sekitar 20 tahun kedepan, generasi yang diharapkan menjadi pemimpin bangsa atau penggerak perekonomian bangsa menjadi tidak produktif.

Saya pikir, benar juga Yoris ini. Niatnya sangat tepat. Saya pun langsung melakukan pre-order untuk bukunya di toko buku online, bukabuku.com.


Kita Hanyalah Orang Tua, Bukan TUHAN

Kasus orang tua memaksakan kehendak dan pola pikirnya pada anak, seyogyanya tak terjadi lagi sekarang. Jika saja orang tua, mau lebih lelah sedikit lagi untuk membuka wawasan, bergaul dengan lebih banyak orang di masa libur kerjanya. Mungkin orang tua akan bisa mendapatkan gambaran bagaimana dunia bekerja sekarang. Bagaimana anak-anak muda meraih prestasinya di jalan yang mereka ciptakan sendiri.

Saya pernah mendengar almarhum Bob Sadino bercerita. Dia membiayai anaknya sekolah bisnis ke luar negeri, memilih sekolah terbaik. Namun, ketika anaknya pulang ke Indonesia dan memilih jualan Pecel Lele, beliau pun santai saja. 

Nah, itulah karakter anak-anak kita. Generasi Langgas, Millenials Indonesia.

Mereka begitu bebas. Keinginannya, kemauan bahkan kemampuannya tidak bisa kita prediksi dengan jalur berpikir lama. 

Jika anda mengalami hal ini, maka selamat. Kita mempunyai frekuensi yang sama. Yang artinya, kita butuh mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang generasi millenials ini. Mungkin salah satunya dengan membaca buku Generasi Langgas, yang diusung oleh Kick Andy Show itu. Kalau saya sudah dapat bukunya, dan membacanya, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya.

Intinya, mari selamatkan anak-anak kita dari sikap yang melemahkan mereka.

Semoga menginspirasi.
Salam,

Heni Prasetyorini


Tetap Tegar Jadi Emak Gahar



Emak gahar dilarang tumbang!
Emak gahar dilarang nangis di pojokan!

Lah, mbak Heni, itu ngapain sampai mangap-mangap segala. 
Ekspresinya itu sepenuh hati banget gaharnya. 
Hahaha, itulah cara terampuh saya untuk "mencambuk" diri sendiri. Memaksa diri sendiri melawan baper dan mager. [*baper = bawa perasaan, mager = males gerak]

Apalagi kalau udah harus berhadapan dengan siklus bulanan yang memporak-porandakan mood, dan membuat kaki dan boyok terus nyut-nyutan. Linunya itu loh, kayak habis naik gunung sama himpunan pecinta alam aja. Perasaan jaman sekolah, naik lereng gunung sampai subuh terus pulang ke kos-kosan, besoknya aman aja lari ngejar angkot. Sekarang track jalan kaki cuma pagar dan dapur aja, aduuh badan pegel semua.

Perempuan Multitasking Butuh Multivitamin

Mendengar keluhan saya itu, banyak teman yang menganjurkan saya minum multivitamin mineral dalam kemasan modern yang siap minum. Secara umur juga udah lewat jauh dari angka 17 tahun, saya pun kudu tahu diri juga lah. Apalagi perempuan, kerjaannya banyak bener, nggak ada habisnya dengan waktu terbatas. Mau jadi ibu rumah tangga, kerja dirumah, kerja di kantor, pokoknya jadi emak-emak itu nggak mungkin lepas dari multitasking.

Terlebih kalau udah jadi emak-emak, jadi ibu, jadi mom.
Singkatan kata MOM juga apa coba?


MOM = Master of Multitasking. 


Menjadi seorang ibu adalah sebuah perjalanan baru menjadi manusia ajaib yang ahli melakukan beberapa hal sekaligus. Multitask.


Ajaib?

Ya, karena tanpa perlu adanya pelatihan tertentu, seorang ibu otomatis saja bisa melakukan semua hal dalam satu waktu. Misalnya menggendong anak, sambil menyusuinya, sambil membersihkan telinga anaknya, sambil berjalan kesana kemari dari dapur menuju tempat mesin cuci baju. Ya, semuanya bisa dilakukan sekaligus. Bahkan sesekali sang ibu mampir ke meja makan, mencomot beberapa potong tahu goreng untuk pengganjal lapar saat menyusui.  Hitunglah berapa jumlah pekerjaannya? Mau ditambahin lagi? bisa!

Dengan beberapa pekerjaan yang perlu diprioritaskan sekaligus dalam satu waktu inilah, perempuan biasanya kurang baik menata pola makan dan pola hidup yang sehat. Terkadang karena kelelahan pula, terjadi gangguan kesehatan dan pencernaan yang menyebabkan penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh jadi tidak optimal. 


Terlebih jenis vitamin dan mineral itu ada yang larut dalam air, yang bisa mudah hilang jadi keringat atau air seni. Jadi harus di-"supply" terus supaya metabolisme tubuh tetep berjalan baik. Cara termudah ya minum multivitamin dan mineral. Selain menjaga stamina, multivitamin mineral diperlukan juga untuk beberapa hal dalam infografik berikut ini:





Memilih multivitamin juga kudu ati-ati loh mak. Sesuaikan dengan kebutuhan gizi kita yang dipengaruhi gender dan juga umur. Untuk perempuan, suplemen multivitamin biasanya dirancang untuk kebutuhan usia subur 18 - 50 tahun. Bahkan pada wanita hamil, diperlukan multivitamin yang mengandung lebih banyak zat besi dan asam folat, utnuk mencegah bayi lahir cacat. 

Nah, di cerita awal saya lemah letih lesu, itu bisa dikarenakan kekurangan vitamin dan mineral. Emang mak, itu loh, walaupun vitamin dan mineral hanya diperlukan dalam jumlah kecil, akan tetapi penting. Kalau kekurangan bakal ada masalah, kalau berlebihan juga kurang baik. Lebih lengkapnya saya sajikan dalam bentuk tabel ini nih, biar mudah bacanya. 



Tabel1. Jenis Mineral, Fungsi dan Akibat jika kekurangan


Tabel 2. Jenis vitamin, produk makanan sesuai 


Ketika Menstruasi, Kemampuan Multitasking Perempuan Menurun


Jadi, kayak saya tuh, kalau lagi mens badan pegel semua, lemah, letih, lesu, itu bisa diakibatkan kurangnya asupan vitamin dan mineral berupa zat besi, Mangaan dan seng. Saat siklus menstruasi, bahkan ketika sudah menopouse, perempuan membutuhkan asupan zat seng dan zat besi dengan baik. Coba deh kalau lagi drop bulanan gitu, minum suplemen yang ada kedua unsur mineral tadi, dijamin badan lebih seger rasanya. 

Kebetulan, kemarin saya coba minum tuh multivitamin mineral Theragran M, lumayan badan ini jadi seger lagi dan bisa neruskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Itu karena, di dalam setiap kapsulnya mengandung beberapa vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh, dengan komposisi tepat. Minumnya juga sehari sekali saja ya, kecuali dokter menganjurkan lain. 


multivitamin theragran M
Jenis vitamin dan mineral yang ada dalam Theragran M


komposisi Multivitamin Mineral Theragran M

Nah, jadi kenapa ada orang bilang kalau multitasking perempuan menurun ketika mens? 

ya karena setelah diteliti, kemampuan spasial perempuan berkurang dalam siklus mens bulanannya. Kemampuan spasial itu penting karena menentukan kemampuan menggabungkan beberapa kemampuan yang berbeda sekaligus. Tetapi hal ini juga berbeda-beda sih, tergantung bawaan tiap orang juga. Ada perempuan yang makin lincah gesit saat mens, ada yang makin susah mikir banyak hal dan melakukan multitasking. 



Pokoknya kalau mau kerja multitasking, butuh banyak energi deh, kayak animasi di bawah ini:


Ingat! Jangan Berlebihan

Walaupun sangat berguna untuk kesehatan, minum multivitamin tidak boleh berlebih loh mak. Hindari multivitamin yang melebihi 100% dari nilai harian yang direkomendasikan. Karena kalau kebanyakan dalam dosis besar, dapat jadi racun bukan jadi nutrisi dalam makanan. Misalnya kelebihan kalsium, akan menghambat penyerapan zat besi. Pokoknya pilih multivitamin dengan komposisi seimbanglah kayak Theragran M ini, yang diproduksi perusahaan terpercaya PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. Belinya juga gampang, ada di apotek terdekat atau apotek online yang sekarang sudah mulai banyak beredar di internet. 


Tetap Tegar Jadi Emak Gahar

Bener juga nih, setelah rutin mengkonsumsi multivitamin mineral Theragran M, badan jadi lebih segeran. Nggak gampang ngantuk, lesu dan bete lagi. Pekerjaan rumah beres, urusan kerjaan di blog dan edupreneur juga oke. Proposal training digital learning yang sudah diminta oleh pihak sekolah, bisa saya hias lagi dengan beberapa infografik dan mengirimnya menjadi berkas yang lebih cantik. 
fotonya yang cakepan dikit napa mak? :D
Serius nih, nggak mudah jadi perempuan loh, apalagi emak gahar. Kan emak gahar nggak boleh nangis di pojokan? wkk..

Yang artinya, biarpun migren melanda atau gundah gulana kehidupan datang menerjang, tetep aja rencana kerja kudu jalan terus. 

Demi apa coba?
Emak gahar ingin membangun 7 karakter perempuan suksesIngin menguji kemampuan diri sendiri, seberapa besar pencapaian yang bisa dibangun oleh perempuan yang baru bisa berkarya setelah belasan tahun menjadi ibu rumah tangga. Nah, 7 karakter ini harus saya upayakan sekuat tenaga tetap ada dalam diri saya. Yaitu:
  1. punya passion yang kuat
  2. mau bekerja keras
  3. fokus 
  4. punya motivasi diri yang kuat
  5. melayani sepenuh hati
  6. gigih menghadapi rintangan
  7. percaya diri
Apalagi saya nih dianugerahi anak laki-laki semua. Saya kudu menunjukkan ketangguhan dalam menjalani hidup. Sehingga anak saya jadi anak gadas, kuat sekuat batu cadas. Tapi itu semua tidak hanya dibangun dengan tekad. Melainkan kudu dibarengi gaya hidup sehat. Sepakat? 

Semoga menginspirasi ya...

Salam, 


Emak Gahar :D
alias Heni Prasetyorini







Saat Ibu Rumah Tangga Ngayal Jadi Juragan Minimarket


Kalau dibilang ibu rumah tangga suka banget baper, itu bener sekali. Terutama di bagian ujung dan akhir dari kolom mingguan kalender. Awal bulan dan akhir bulan, *sigh. Saat awal bulan, harusnya kita gembira ria ya, dana segar udah cair. Tapi, jujur saya sering banget baper pas giliran belanja kebutuhan bulanan untuk sembako dan aneka ria jenis sabun. Tiap maju di meja kasir, sering saya mbatin gini,
"dari dulu kok giliran aku aja yang beli dan bayar, kapan giliranku yang jual?"
 Yang artinya, kapan yaa bisa punya minimarket kayak Alfamart gini. Udah adem, bersih, rapi plus selalu disambut dengan kalimat "selamat datang...." lalu dilepas dengan kalimat, "selamat datang kembali...". So sweet kan? :D

koleksi Alfamart.com
Ya ampun Heni, bangun atuh.
Mimpi kok segede langit pengen punya bisnis franchise alfamart. Eh lah, siapa tahu diijabah oleh Sang Penguasa Alam Semesta? iya toh? Apalagi katanya, bermimpi harus sampai setinggi langit. Biar kalau jatuh, masih berada diantara bintang-bintang. Yang artinya, nggak ada salahnya ibu rumah tangga bermimpi jadi juragan minimarket paling hits di Indonesia ini. Siapa tahu ada teman baik hati, mampir lalu ngasih modal, ya kan?
amin
*lalu berdo'a di pojokan kamar :)

FYI ya Gaess..
For Your Information.
Cakep-cakep gini, saya udah pengalaman dagang loh. Biar kata kemarin berkutat sama tabung reaksi dan erlenmeyer. Ketika fix jadi IRT, jiwa dagang saya mulai dipaksa muncul, hehehe.

Enggak kok, serius.
Memang saya keturunan pedagang. Nenek dari ibu saya, gemar berdagang dan kreatif sekali. Kesukaan nenek, yang kami panggil, Mbah Pa, adalah berjualan makanan alias bisnis kuliner. Mbah Pa pernah jualan rujak ulek, buka warung, jualan kue dan es di depan asrama polisi tempat mbah dan ibu saya tinggal.

Ibu saya selain jadi penjahit, juga suka bisnis kuliner. Malah yang paling lama itu bisnis jualan Jamu seduh. Aneka jenis dan merk jamu seduh saya tahu. Cara mengadon jamu juga saya cukup piawai. Bahkan saya dan adik cewek saya, kalau iseng bikin jamu sariawan atau jamu Gadis Remaja. Dibikin sendiri, dikasih madu, diminum sendiri. Iseng-iseng berhadiah kesehatan, hihihi.

Ndilalah alias kebetulan juga, ibu mertua saya penjahit pula. Hadeeh jodoh banget ya, saya dan suami. Sampai profesi ibu kami pun sama.

Nah, sejak saya bertransformasi jadi Ibu Rumah Tangga, saya pun mulai berdagang. Diawali dengan jualan daster milik kakak ipar. Lalu merambah produksi jilbab sendiri dan menjualnya secara online. Sempat ikutan MLM jualan produk madu, tapi gagal total. Lalu membuat aksesoris dari kawat, belajar otodidak sampai ada orang Malaysia yang ingin memesan. Dan dari produk kreatif ini, saya bisa diliput oleh Metro TV Jatim di segmen wideshot Inspirasi Bisnis Kreatif tahun 2013.

Yang intinya adalah, sekali kita berdagang maka virus dagang itu akan melekat erat sampai ke sel DNA. eaaaa...biologis banget siihh Hen.

Beneran, suer. Walaupun sekarang saya milihnya ke jalur digitalpreneur, tetep aja jika ada peluang bisnis maka radar saya akan menyala. Buktinya ya dari kegelisahan saya ketika belanja bahan bulanan di minimarket itu tadi. Gelisah untuk memilih jadi penjual daripada sekedar pembeli. Mimpi setinggi langitnya ya jadi  pemilik bisnis franchise alfamart. Apalagi setelah mengalami pengalaman dagang, serta berkumpul dengan para ahli di bidangnya.

Saya berkesimpulan bahwa berdagang itu tak sekedar nyari duit, nyari untung. Tetapi bisa diniatkan memberikan kemudahan kepada user atau konsumen kita. 

Salah satunya ya seperti minimarket itu tadi. Dengan lebih lengkapnya barang yang tersedia, dengan harga terjangkau, maka konsumen mudah mengakses toko dan memenuhi kebutuhannya. Tidak perlu parkir di tempat yang jauh meliuk-liuk. Cukup jalan kaki beberapa meter atau naik sepeda motor sekitar lima menit, sudah sampai di minimarket.

Kebayang juga saya jadi juragan minimarket, bakal punya banyak teman baru. Karena saya paling seneng nemenin di bagian kasir, lalu ngajak ngobrol orang. Asik gitu, lihat aneka karakter orang dan cara mereka menjawab pertanyaan kita. Terkadang bisa belajar tentang kehidupan tanpa sadar. Yang pasti, di minimarket saya nanti ada spot untuk jualan buku unik dan menarik. Ditambah sesi dongeng tiap Minggu pagi di pelataran minimarket. Aiihh, bakal banyak anak kecil-kecil lucu, imut, ginuk-ginuk.

Amin, Ya Rabb...
Tolong Like, Share dan tulis Amin.
Hihihi...

So, khayalanmu apa?







Raising Boys Itu Tak Semudah Beli Sepatu Online

Raising boys alias mengasuh anak laki-laki itu bisa dibilang asik-asik ajaib.

Kalau dibandingkan dengan membeli sepatu, bisa dibilang lebih mudah. Apalagi kalau belanja sepatunya di toko online. Yang recommended tuh belinya di situs online-nya MatahariMall.com.  Di sini kita bisa tahu jenis dan merk serta harga sepatu anak lelaki branded. Kenapa butuh yang branded? Lah, bukannya kenapa sih, karena anakku nih setali tiga uang sama bapaknya. Males banget diajak ke mall apalagi ke toko baju dan sepatu. Paling alergi katanya. Beda banget sama emaknya ya, hihihi. Karena jarang banget update sepatu, maka kudu milih yang awet. Nah, sepatu branded itu biasanya lebih awet dan enak dipakai. Saya udah nggak pengen lagi denger alasan anak menolak diajak ke mall buat nyari sepatu.

 “ngapain sih beli sepatu baru lagi ma? Ini juga cukup”, 

itu aja alasan mereka kalau diajak pergi. Padahal tuh sepatu lama udah butut bin baunya ajiibb. 
koleksi MatahariMall.Com

Setelah saya tunjukkan gambar sepatu dari situs belanja online tadi, barulah mereka semangat dan ikutan buka katalog sepatu onlinenya. Biar rempong urusan milih sepatu atau baju, untungnya nih barisan lelaki di rumah saya bukan tipe metroseksual. Pada males dandan. Jadi nggak perlu beli aneka jenis printilan atau kudu up to date sesuai yang lagi trendy. Makin klasik dan awet, mereka lebih suka. Syukurlah, emaknya nggak ada saingan. Mau beli apa-apa juga bisa save money duluan, karena buat beliin anak sepatu, bisa tahu harga sepatu anak lelaki branded dari MatahariMall.com.

Nah, itulah sisi asik punya anak laki semua. Tapi ada juga sisi ajaib yang kadang bikin kita ngelus dada.  Ajaib karena semakin lama, saya sering mendapatkan perilaku yang sangat jauh dari sifat dan kepribadian saya sebagai ibunya, satu-satunya perempuan di rumah.  Misalnya nih, mereka mendadak diam saja santai setelah mengalami hal tidak menyenangkan. Bapernya Cuma sesaat aja gitu loh. Ketika saya sebagai emaknya masih penuh dendam membara, nih anak udah santai main game.

Ada lagi. Kedua anak lelaki ini hampir sama dengan suami saya, bapak mereka. Yaitu susah sekali melakukan multitasking. Alias ngerjakan beberapa hal sekaligus. Misalnya, mereka tidak bisa melakukan hal sekaligus memasak, sambil mencuci piring lalu menyapu rumah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Walaupun di awal sudah dilakukan rencana kerja dan kesepakatan, tetap saja ada yang terlewat dan kelupaan. Ini bikin gemes banget. Rasanya mereka nggak bisa efektif gitu loh.

Ternyata eh ternyata, memang begitulah karakter dasar manusia bergender laki-laki. Susunan otaknya memang sedikit berbeda dengan perempuan. Ada bagian otak laki-laki yang cara kerjanya ON-OFF. Jadi ketika melakukan satu pekerjaan, akan ON untuk satu hal dan OFF untuk hal lainnya. Jadi itu sebabnya, ketika mereka mencuci, mereka tidak akan memikirkan sama sekali tentang menyapu dan memasak. Mereka hanya bisa menyelesaikan atau mengingat hal satu demi satu secara bergantian. Mengetahui kalau ini bawaan secara biologis dari Tuhan, saya harus menerimanya dengan lapang dada 

Satu lagi yang kompak menjengkelkan. Nih anak dan bapaknya sama aja. Selalu bertanya dimana benda ini itu. Lupa ditaruh dimana. Meletakkan sembarangan. Entah itu penting atau tidak. “ma, sabukku dimana? Kaos dalamku dimana? Kasoku yang hitam dulu itu dimana? Kertas yang ada tulisan nomer teleponnya itu dimana?

Hadeehh pengen kabuur aja kalau udah ini terjadi. Paling males disuruh nyari barang walau di rumah sendiri. Udah mah kita ngomel beribu kali, juga berulang lagi lagi dan lagi, mereka meletakkan barang sembarangan. Tuhan, ini kutukan atau apa yaa namanyaaa?? Ibuuukk tolooong.

Kalau dari segi ini, nih otak perempuan lebih unggul. Kita bisa merekam letak secara spasial dengan lebih lama. Lebih ingat diletakkan dimana. Dan memang, saya juga mudah sekali. Anak dan bapak muter setengah jam mencari barang. Ketika bertanya pada saya, biasanya maksimal 10 menit sudah ketemu tuh barang. Atau malah Cuma 5 menit.

Itu adalah sesi-sesi ajaib mengasuh anak lelaki. Yang asik juga ada.
Keasikan ini terjadi karena saya satu-satunya perempuan di rumah. Ratu rumah. Satu-satunya putri, walaupun lebih tepatnya disebut Putri yang Teraniaya, LOL.

Apakah itu?
Ya urusan kecantikan dan berdandan. Fix, saya aman tanpa ada satupun yang protes ketika saya beli baju baru, sepatu baru, lipstik baru atau jilbab baru. Mereka tidak akan minta dibelikan juga.

So, yang punya anak laki-laki, Merasakan hal yang sama juga mak? :D