Beib, Ayo Kita Bulan Madu Ke China


ssst..waspadalah, tulisan ini bisa mengantarkan anda baper luar biasa terutama jika belum ada pasangan halalnya. :)

Di saat menopang dagu, bayangan itu kembali terlintas di kepalaku. Hampir 20 tahun yang lalu, takdir mengantarkan dia sehingga bisa duduk di hadapanku. Wajahnya letih. Dia memakai sweater berwarna biru dongker tua. Ada resleting di bagian dadanya yang tertutup rapat. Apakah dia tidak berkeringat? Karena suasana kereta api saat itu begitu padat.

Aku bercengkerama asyik dengan Anita dan Rini, kedua teman kos yang sama-sama berasal dari Jawa. Sesekali mataku beradu pandang dengannya, lelaki bersweater biru itu. Tapi, tiap kali itu terjadi, dia buru-buru menunduk atau menatap lurus ke depan. Atau membetulkan posisi duduknya yang bersandar di kursi seorang penumpang.

Ini kali kedua, aku akan menempuh perjalanan panjang antara Bandung dan Surabaya dengan naik kereta api Mutiara Selatan. Pertama, aku pergi dari Surabaya bersama ibu, bapak dan pakde. Mereka mengantarkanku yang akan menempuh studi di institut teknologi yang ada di jalan Ganesha.

Sekitar beberapa bulan kemudian, aku kembali naik kereta itu. Tapi kali ini aku akan pulang ke Surabaya, bersama teman kosku, yang berasal dari Jombang dan Nganjuk. Baru saja seperempat perjalanan, aku sudah menangkap kehadirannya. Pemuda itu.

Karena perjalanan sudah mulai terasa membosankan, plus pedagang keliling sudah pada turun, aku mencari kegiatan lain pengalih kejenuhan. Entah karena dorongan apa, kok tiba-tiba aku menyapanya,

"kok duduk di bawah mas, nggak kebagian tiket ya?"

Pemuda itu mengangguk dan tersenyum. Sekali lagi ia membenahi posisi duduknya. Dan kereta pun terus melaju, seiring kami yang bertukar kata menyebutkan nama, sesaat ketika aku akan turun di stasiun Gubeng Surabaya.

"Hen, Heni," sebuah suara memanggil di belakangku.
Aku kaget sekali, tak menyangka akan bertemu lagi di stasiun Bandung, ketika aku kembali lagi sendirian setelah liburan seminggu di rumah.
Tanpa diminta, dia mengangkat dua kerdus oleh-oleh dari ibu dan membantuku sampai masuk ke angkot dan menuju tempat kos.

Seperti mimpi.
Ataukah takdir?
Pertama ketemu di gerbong kereta. Lalu berpisah begitu saja.
Kedua bertemu di ujung pintu gerbong kereta. Bertemu begitu saja.
Apakah Goblin turut andil mempertemukan aku dan dia?
Ya ampun, kisahku ketemu sama jodoh kayak drama Korea aja.

Aku tertawa jika mengingatnya.
Apalagi dia, pemuda bersweater biru yang kemudian menjadi suamiku.
Dia paling demen menceritakan momen aku menyapanya di dalam gerbong kereta itu tadi. Terutama bercerita kepada dua anak lelaki kami yang sudah beranjak remaja.
"mama yang nyapa bapak duluan loh"

Paling sebel kan?
Bisa meruntuhkan pencitraanku sebagai perempuan yang harusnya manis manja meronah. Malu malu tapi mau. Lah kok ini yang menyapa duluan. Mau ditaruh dimana mukaku?
Haduuh...nggak ada penyesalan seberat itu deh.
Ngapaiin juga aku nyapa diaaa.....
Gara-gara GOBLIIIIIN....pasti ini gara-gara kamu Blin !!!

Nggak gini juga sih kejadiannya :) - [ minjem foto dari sini ]


Aih, telat banget kali kalau menyebut penyesalan. Kami sudah menikah hampir 16 tahun. Jika ditotal dengan waktunya proses pra-nikah yang 4 tahun itu, kami udah ketemu hampir 20 tahun. Teruus aja berdua. Nggak pake putus nyambung putus nyambung kayak lagunya Raffi Ahmad di grupnya BBB.

"Kok nggak bosan sih Hen?"
Selaluuu aja. Kayak wajib aja ya, pertanyaan ini muncul di semua temanku kalau udah tau kisah cintaku dengan suamiku ini. SKIP aja deh, SKIP.
Aku ini perempuan SUPER SETIA. Biarpun gaya gerakku tomboy and kayak laki banget , kesetiaanku benar-benar tidak bisa digoyahkan.

Ups, tapi. Dia bosen nggak ya sama aku?

Waduuh, Bebeiib...bosen nggak sama aku Beib?

Biar nggak bosan, kita bulan madu aja yuk Beib. Kita ke CINA. Iya, ayo kita rancang liburan kesana tahun ini. Kita kudu jadi pergi kesana. Sebelum anak sulung kita, beneran terbang ke Cina untuk nerusin kuliah.

Dari Jombang ke Cina

Kebetulan banget, hari Minggu kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke calon sekolahnya anakku di daerah Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Tepatnya di SMK TELKOM DARUL ULUM JOMBANG.

Ketika ngobrol dengan Kepala Sekolahnya, beliau mengatakan bahwa di sekolahan ini akan ada projek setelah lulus yang bekerjasama dengan universitas di Cina. Yaitu program beasiswa sekolah saja, atau sekolah sambil bekerja. Anakku langsung senyum tipis dengan binar mata tertarik dengan program itu. Memang dari kecil dia ingin sekali bisa kuliah di luar negeri. Biar merantaunya melebihi bapak dan ibunya gitu.

Nah kan Beib, sebelum anak kita beneran kesana, kita aja yaa yang terbang ke Cina duluan. Kita survey dulu kondisinya disana bagaimana. Kondisi masyarakat muslimnya bagaimana. Tempat ibadahnya gimana. Anak kita bakal mudah nggak nyari makanan halal. Nyari masjid buat sholat, terutama sholat jum'at. Karena dia laki kan wajib jum'atan.


Temanku bilang nih Beib, Cheria Travel ini udah terpercaya banget dijadikan rujukan untuk memfasilitasi niat kita piknik yang MUSLIM Friendly banget. Bakal ditunjukkan rute wisata yang bagus untuk lahir batin kita. Teratur untuk urusan ibadah sehari-hari seperti sholat dan gimana menjaga kebersihan. Plus selalu diberikan link untuk mendapatkan makanan yang halal. 


Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia 




Kalau belum jelas, coba klik video ini deh Beib. Makin pengen kan terbang ke China? Ayo beneran kita pergi kesana. Rencana bulan madu kita ke Jogja kan belum terwujud. Ya kan? ya kan?
Kita cuma sempat mampir bentar disana. Lalu nggak bisa kesana sampai anak kita ada dua dan jadi remaja. 

Udah deh, nggak jadi ke Jogjanya. Kita ke China aja dulu. Sekalian memberikan pengalaman pertama menginjak daratan China untuk anak-anak. Biar kalau udah giliran berangkat sendiri kesana, mereka udah lebih pede dan berani. Sekalian juga maksudku nih, kalau kita ikutan Cheria Travel, bisa minta link netoworking ke mereka untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di China. Biar anak kita, makin banyak dapat orang dewasa yang bisa jadi jujukan jika terjadi apa-apa gitu loh. 

Nggak usah kuatir Beib, aku dah nemu nih Paket Tour Wisata Halal China


Add caption
Nah, paket Tour China ini jalurnya dari Jakarta ke Beijing. Biar seru, dari Surabaya, kita naik kereta api ke Jakarta. Nah waktu di kereta api itu, kita bikin photoshoot. Reka adegan waktu kamu dan aku ketemu pertama kalinya. Plus ketemu kedua kalinya secara tak sengaja. Lalu naik kereta berdua selama LDR-an itu. Ah pasti asik Beib. Biar anak-anak yang megang kameranya. Sekalian buat mengakrabkan keluarga mini kita ini.

Gimana? setuju ya. Nanti kita bulan madu ke China aja ya. 
Oke, deal !



Lomba Menulis Artikel Cheria Wisata


Waspadai Copy Cat Chrime

Tulisan ini ditayangkan di website Ribut Rukun

Peniruan Kejahatan. Seorang anak menonton adegan orang meletakkan ular berbisa di tempat tidur musuhnya. Ketika anak itu marah kepada adiknya, ia meletakkan ular di tempat tidur adiknya. Copycat crime.

Seorang gadis remaja ditemukan tewas. Setelah diselidiki, gadis ini bernama Yuyun. Ia tewas setelah mengalami tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh 14 orang laki-laki ketika ia pulang sekolah. Publik marah, sekaligus merasa pedih tiada tara. Gerakan 'Nyala untuk Yuyun' kemudian muncul di mana-mana sebagai ungkapan keprihatinan. Hampir semua orang membagikan berita tentang Yuyun di sosial media mereka. Berbagai kalimat ikut menyertai, entah itu umpatan, makian, doa, atau rasa putus asa terhadap moral bangsa. Berita semakin tersebar.

Hari ini, belum satu bulan dari berita Yuyun, muncul lagi di media massa: di Kalibokor Surabaya, seorang gadis berumur 13 tahun dicabuli oleh 8 teman lelakinya - yang umurnya juga masih ingusan.

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita di media massa Surabaya, seorang anak balita dicabuli oleh tetangga kos rumahnya. Seorang tukang jualan jajanan. Beritanya begitu detail. Bocah itu ditemukan setengah telanjang, menangis, mulutnya ditutup lakban bening. Pelaku, yang kaget karena aksinya dipergoki orang, menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk lalu kabur melarikan diri. Ibu si bocah menangis, berteriak, marah, dan melemparkan semua yang ada.

Belum juga beranjak satu minggu, ada berita lagi di media tersebut. Seorang kakek tuna rungu, melakukan pencabulan pada bocah berumur 7 tahun. Mulut bocah itu ditutup lakban. Kejadian itu terungkap karena teman korban mengintip dan melaporkan hal tersebut kepada ibu korban.

Oke, mari tarik nafas panjang sejenak.

Saya tidak sedang mencoba menanamkan memori sadis atau mengerikan dalam benak Anda. Namun, cobalah lihat polanya. Pola kejahatannya. Apakah Anda melihat ada unsur kemiripan atau kesamaan? Apakah bisa kita katakan, kejahatan itu ditiru?



Copycat Crime
Ada banyak perdebatan soal ini, orang cenderung melakukan kejahatan karena mereka melihat hal yang sama ditampilkan di media. Walaupun kejahatan telah ada sejak jaman dulu, bahkan juga sejak hukum dan undang-undang dibuat, tetapi masih saja selalu ada kejahatan baru yang polanya sesuai dengan pola kejahatan sebelumnya - yang dilihat, didengar, atau dibaca oleh pelakunya lewat media. Inilah yang disebut copycat crime, kejahatan yang timbul karena peniruan.

Peniruan Kejahatan. Seorang anak menonton adegan orang meletakkan ular berbisa di tempat tidur musuhnya. Ketika anak itu marah kepada adiknya, ia meletakkan ular di tempat tidur adiknya. Copycat crime.

Walaupun media tidak berniat untuk menarik orang agar melakukan tindak kriminal, tetapi dalam pemberitaannya sering menunjukkan dengan detail bagaimana sebuah tindak kejahatan dilakukan. Tidak hanya soal tindak kriminal, pemberitaan tentang bunuh diri pun demikian. Sesungguhnya, etika pemberitaan berita kriminal telah mengatur bagaimana berita-berita semacam itu harus disampaikan. Berita-berita tersebut tidak boleh disampaikan dengan detail. Karena, siapa saja bisa menonton berita tersebut, termasuk orang yang sedang berada dalam kondisi mental yang kurang stabil. Mereka yang dikhawatirkan bisa meniru dan melakukan tindakan-tindakan yang diberitakan, bunuh diri misalnya.

Memang, pekerja media tentu akan mengalami kesulitan untuk menyampaikan berita apa adanya, apalagi jika diperhadapkan dengan tuntutan rating.

Jika pihak media tidak bisa mengelak dari pemberitaan detail yang bisa memicu copycat crime, maka kita, para pengguna media, yang harus mempunyai kesadaran tersebut.
Hati saya pedih sekali saat membaca status Facebook seorang ibu - yang saya tahu sepak terjangnya begitu baik di dunia pendidikan. Ia membagikan berita tentang pencabulan anak yang terjadi di Kalibokor Surabaya itu. Di dalam statusnya, ia mengatakan prihatin dengan kondisi moral anak Indonesia. Ia pun lalu mengaitkannya dengan sistem pendidikan nasional, buruknya mental bangsa, dan sebagainya.

Saya membaca status itu dengan getir, bukan karena meratapi moral bangsa ini. Melainkan karena mencoba mengerti, untuk apa Beliau menuliskan hal tersebut? Untuk menggugah kesadaran para followers-nya agar membenahi moral anak-anak? Apakah itu terlaksana? Manakah yang akan lebih cepat terjadi, berita itu beredar dan menyebar secara viral ataukah perbaikan moral anak bangsa?

Jawaban pertamalah yang, menurut saya, lebih cepat terjadi. Berita itu semakin viral. Semakin banyak yang membaca. Bisakah yang terjadi akhirnya, berita tersebut terbaca oleh orang yang mempunyai kesehatan mental yang kurang stabil? Apakah yakin yang membaca itu adalah para pemerhati moral bangsa saja? Mungkinkah salah satu di antara mereka yang membaca adalah orang yang tidak sehat akal pikirannya? Dan, siapakah yang mengantarkan 'bahan' kepada mereka untuk dimakan mentah-mentah, ditiru, lalu dilakukan juga? Kita, bukan? Jangan-jangan, kita yang membuat mereka menjadi penjahat baru. Masuk akal?

For God's sake. Hal ini bisa terjadi. Semua orang, tua, muda, miskin, kaya, mempunyai dan menggunakan smartphone. Wifi gratisan tersebar di mana-mana, bahkan di warung kopi yang kecil dan lusuh sekalipun. Sosial media, seperti Facebook terutama, begitu mudah dan banyak diakses oleh para pengguna ponsel pintar.





Jadi, harus bagaimana?
Jika ada “kekejaman”, apakah lantas berarti kita diam saja, tidak peduli, apatis?

Rasanya ingin sekali setiap ada momen viral sharing berita kriminal seperti ini, saya menulis status dengan huruf besar-besar:

"DIAM BUKAN BERARTI TIDAK PEDULI. TIDAK MEMBAGI LINK BERITA BUKAN BERARTI MENUTUP MATA."

Namun saya tahu, mereka yang dengan begitu reaktif membagi apa saja di sosial medianya, tentunya akan bersikap lebih reaktif lagi terhadap orang-orang yang mengambil pilihan sikap berbeda. Saya tidak mau mengambil jalur berdebat dengan twitwar, facebook war, dan berbagai jenis perang lainnya. Sebaliknya, saya memilih melakukan hal-hal ini:

1. Menahan diri. Tidak memberikan komentar atau respons apapun kepada orang yang berbagi di sosial media.

2. Membuat berita tersebut berhenti beredar dengan tidak membaginya. Jika sudah ada teman yang membagi, ya sudah dibiarkan saja. Jika ingin membaca, silakan. Jika tidak, lewati. Dengan melakukan hal ini, setidaknya saya telah ikut mengurangi efek viral berita kriminal tersebut.

3. Mencermati isi berita dan menarik sebuah garis panjang: apa yang bisa saya lakukan untuk mencegahnya?

Berkaitan dengan poin terakhir, saya berusaha menerjemahkannya menjadi hal yang lebih riil untuk dilakukan. Saya lakukan hal yang paling bisa saya lakukan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Saya adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan pengertian - sedalam dan sesering mungkin - kepada mereka tentang betapa pentingnya menjaga kehormatan perempuan.

Saya ajak mereka untuk memandang perempuan seperti mama mereka; perempuan adalah ibu. Bahwa tubuh perempuan, termasuk payudara, bukan mainan dan bukan bahan tertawaan. Saya beri pengertian kepada mereka, bahwa payudara diciptakan Tuhan sebagai alat untuk memberi makan adek bayi, termasuk memberi makan mereka hingga bisa sehat dan tumbuh besar seperti sekarang ini. Saya membatasi dan mengawasi akses mereka terhadap hal-hal yang dapat memberikan input buruk. Segala bacaan, game, film, atau animasi yang menampilkan tubuh perempuan untuk dijadikan mainan dan objek tertawaan, mereka harus berhenti melihatnya. 

Selain itu, sebisa mungkin saya membenahi diri dan pola komunikasi dalam keluarga, agar terbina ikatan emosional yang kuat di antara kami. Saya berharap, dalam kondisi apapun dan kejadian apapun, anak akan mencari saya dan suami sebagai tempat untuk berbagi cerita. Semoga.

Mungkin pola-pola ini tidak sama dengan keluarga lain, itu sah-sah saja. Yang penting adalah upaya pencegahan apa yang bisa kita lakukan.

Baca Juga: Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji ini!





Diri Sendiri, Kunci Perubahan
Banyak ahli kriminal mengulas, penyebab utama dari kejahatan adalah karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Perut lapar, tak punya pekerjaan, akses pornografi bertubi-tubi, miras oplosan yang murah - godaan kesenangan sesaat, itulah yang bisa mengantarkan pelaku untuk melakukan kejahatan-kejahatan baru, yang semakin lama semakin sadis di luar nalar manusia. Untuk itu, saya berpegang pada keyakinan, jika ingin mengubah keadaan, kita harus berkontribusi pada dua hal tersebut: meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Ada tiga kunci perubahan yang saya dengar dari seorang ulama besar:

Mulai dari hal yang sederhana. Mulai dari diri sendiri. Mulai sekarang juga.

Penerapan sederhananya bisa seperti ini, jika Anda seorang online seller yang aktif di dunia per-online-an, Anda bisa membagikan pengetahuan untuk berbisnis secara online di lingkungan terdekat, di arisan PKK, misalnya. Jika para ibu di sana masih 'gaptek', tak apa, cobalah memberikan porsi sebagai pengrajin kepada mereka. Libatkan mereka untuk membuat sesuatu, apakah membuat kerajinan tangan, memasak kue, atau hal-hal lainnya. Ketika beberapa ibu sudah mau terlibat, buatlah sistem dan program, misalnya dalam suatu waktu tertentu setiap bulan, Anda membagikan ilmu parenting, manajemen keuangan, spiritual, atau apapun yang bermanfaat kepada mereka. Jika mereka sudah terbina dengan baik, maka anak-anak mereka pun akan mendapat perhatian, pendidikan, serta kesejahteraan yang lebih baik. Pengawasan sosial pun semakin bisa dilakukan karena segala unsur masyarakat terlibat di dalamnya.

Hal ini memang tidak mudah dan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang instan. Akan tetapi, ini adalah solusi pencegahan tindak kejahatan paling konkrit yang bisa kita lakukan. Dan, yang jelas, jauh lebih baik daripada membagikan berita di sosial media dan berdoa di sana.

Mari, pertimbangkan dengan bijak sebelum membagikan berita kriminal di media sosial pribadi kita. Jangan sampai 'Nyala untuk Yuyun' malah menjadi 'Api Unggun untuk Yuyun' karena semakin banyak muncul kejahatan baru yang serupa.

Perempuan, Jangan Pilih Pasangan Minder



Tulisan ini ditayangkan di website Ribut Rukun,  107,5K View. 123,5K Share

Perempuan datang atas nama cinta. Tetapi jika pria pergi karena merasa kurang percaya diri, masihkah perlu perempuan menunggunya untuk kembali? Tidak ada lagi kata yang tepat untuk menggambarkan menghilangnya pria tanpa pesan karena merasa dia tak lagi berkesan selain, #kamujahat.

"Rangga, yang sudah kamu lakukan padaku empat belas tahun yang lalu itu - JAHAT!"

Begitu kata Cinta kepada Rangga yang baru ditemuinya lagi setelah terpisah selama 14 tahun. Promosi berkaitan dengan akan diluncurkannya sekuel kedua film garapan Mira Lesmana dan Riri Riza ini begitu gencar sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, hashtag #kamujahat sempat menjadi trending topic. Film ini berhasil membangkitkan kembali kenangan sebuah generasi dari 14 tahun silam. Terutama, untuk saya pribadi, hashtag #kamujahat ini berhasil membuat sebuah memori muncul kembali ke permukaan.



Surat tak berbalas.

Dering telepon tak dihiraukan.

Puluhan ribu rupiah hilang sia-sia, sekadar mendengar dering tunggu dari panggilan-panggilan tak terjawab ke seseorang di pulau seberang sana.

Kondisi ini tentu mengherankan bagi seorang gadis yang baru saja menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya. Kekasih, yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan memintanya untuk kembali, lalu tak lama setelah itu, menghilang lagi. Seperti saat ini.

Mengapa?



Sang gadis untuk beberapa lama larut dalam perenungannya, namun kemudian memutuskan untuk melanjutkan hidup. Kuliah di sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia. Kesibukan menjadi mahasiswi baru membuatnya lupa akan kekasihnya yang menghilang tanpa pesan. Meski kadang, saat kesendirian menyergap, mau tak mau ingatan itu pun kembali. Terlebih masih tersisa rasa penasaran: Ada apa dengan kekasihnya itu? Mengapa Ia tiba-tiba menghilang?

Tak disangka, suatu hari sebuah jawab akhirnya datang. Dalam surat, kekasihnya itu menulis,

"Lebih baik kita putus. Karena aku tidak mungkin bisa melebihi dirimu. Selamat, kamu sudah di terima di ITB."

Kalimat pendek yang menorehkan luka sangat dalam di batin gadis itu, "Oh, ternyata setelah tahu aku diterima di ITB, engkau mundur lagi?"

Pernahkan Anda mengalami hal serupa? Menjalin hubungan dengan seorang pria yang kurang percaya diri. Anda berusaha keras untuk mempertahankan hubungan. Namun, begitu saja berakhir karena alasan yang sama: Lelaki itu tidak cukup percaya diri untuk melanjutkan hubungan.

Ya, saat itu hati saya sangat terluka. Bukan karena saya jadi tidak punya kekasih lagi, tetapi lebih pada perasaan tersinggung. Alasan mengapa dia memutuskan saya seolah-olah menunjukkan bahwa saya adalah seorang wanita yang sombong. Padahal sesungguhnya, saya tidaklah seperti itu. Namun seiring berjalannya waktu, saya akhirnya menyadari, putus adalah jalan yang paling baik pada saat itu.

Waktu itu kami masih SMA, dengan perbedaan usia tiga tahun jaraknya. Sesungguhnya, masih amat panjang perjalanan studi dan karier yang akan kami berdua tempuh ke depannya. Namun, saat itu Ia malah memilih untuk mengakhiri hubungan. Ia merasa saya akan lebih superior darinya karena prestasi akademik di sekolah dan nama besar universitas yang saya masuki. Sungguh konyol!

Kini, setelah saya berpikir-pikir, bagus sekali kami putus. Apa manfaatnya mempertahankan hubungan dengan pria yang tidak percaya pada dirinya sendiri? Pria yang tidak menghargai dirinya sendiri; yang dengan begitu mudah menganggap dirinya lebih rendah daripada perempuan yang dihadapinya?

Susah loh, menjalin hubungan dengan laki-laki seperti itu. Saya kadang malah merasa menjadi demotivated atau under pressure. Saya seringkali berusaha menyembunyikan kemampuan, terutama jika saya pikir kemampuan saya tersebut akan 'melebihi' dia. Misalnya nih, saya sebenarnya sudah piawai menggunakan aplikasi di komputer dan internet, tapi saya akan pura-pura tidak bisa. Bahkan, ketika saya akan mendaftar ke ITB pun, saya sembunyikan. Semata-mata menjaga agar dia tidak tersinggung, tidak terintimidasi, dan lari dari saya.



Apakah saya terlalu cinta?
Ah, tidak juga. Kalau dirunut lagi, saya hanya tidak suka dianggap sebagai orang yang tidak baik. Membuat orang jadi minder karena saya, itu sama artinya orang lain akan menganggap saya orang yang sombong. Dan saya tidak ingin dicap sebagai orang sombong. Saya ingin selalu dianggap sebagai orang yang rendah hati, baik, dan menerima apapun adanya orang; terutama orang yang dekat dengan saya.

Tetapi, jika ini diteruskan, hanya akan menjadi bumerang bagi saya pribadi. Saya jadi tidak akan berani mengambil keputusan apapun di masa depan, terutama keputusan yang baik bagi saya, namun berpotensi untuk membahayakan harga diri pasangan saya. Apakah ini adil? tentu saja tidak. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk maju dan mengembangkan diri, bukan?

Rasa-rasanya, sikap mindernya itu tidak akan berubah bahkan jika kami sudah masuk dalam lembaga pernikahan nantinya. Terbayang kan, jika kami benar-benar jadi menikah, saya harus menekan semua potensi saya dan terus menerus berada di bawah bayang-bayangnya. Sungguh menyiksa.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar untuk menerima kepergiannya dan memperbaiki self esteem saya yang sudah sempat sedikit porak-poranda. Saya menggali semua potensi yang saya miliki dan tidak memikirkan lagi jenis pria yang mana akan menjadi jodoh saya kelak. Saya sibuk dengan diri sendiri, meningkatkan kualitas diri, menyelesaikan kuliah secepat dan sebaik mungkin.

Sampai akhirnya, Tuhan kirimkan pengganti yang jauh lebih baik.

Saya bertemu dengan seorang pria sederhana. Dari segi penampilan, jauh lebih sederhana daripada kekasih saya sebelumnya. Namun, di balik sifat diam dan sederhananya, tersimpan kepercayaan diri yang sangat besar. Jika ditinjau dari profil akademik, saya mungkin masih jauh lebih unggul darinya. Namun demikian, Ia tidak gentar untuk terus mendekati saya dan keluarga saya.

Saya merasa aman dengannya. Tidak pula saya merasa lebih tinggi darinya, karena saya memang bukan tipe perempuan seperti itu. Dan kemudian pun ternyata, Ia adalah jodoh yang paling tepat buat saya. Kami menikah. Dan, setelah dua belas tahun menikah, suami saya mengirim saya untuk kuliah lagi, pascasarjana. Ia membiayai pendidikan saya untuk sebuah gelar S2, padahal Ia sendiri masih S1. Namun, semua itu tidak menjadi masalah baginya. Karena orientasinya, jika saya semakin pintar, maka anak-anak kami pun akan menjadi jauh lebih pintar.

Saya rasa, begitulah seharusnya cara pria manapun menghadapi perempuan yang memiliki potensi yang besar, bukannya malah lari dan bersembunyi di balik harga diri yang rapuh

Reuni Tanpa Syarat


Bisa ketemu lagi, dengan teman satu SMA, setelah pisah 20 tahun yang lalu itu rasanya luar biasa istimewa. Nano Nano.

Bayangkan coba, puluhan tahun nggak pernah kopdar. Alasannya, pertama, ketika lulus SMA saya kuliah di Bandung, yang jaraknya ratusan kilometer dari Jombang Jawa Timur. Kedua, walaupun setelah lulus kuliah saya balik lagi ke Surabaya, sekalipun saya nggak pernah sempat ikutan acara reuni. Lah, mereka ini sadis bener. Selalu bikin acara reuni di malam takbiran, malam menjelang hari raya Idul Fitri. Ya impossible banget bisa ikutan. Karena itu adalah jadwal saya 'terbang' ke rumah ibu  mertua. Yang ketiga, saya jarang sekali ke Jombang kecuali lebaran. Malah beberapa tahun ini, saya tidak ikut jadwal kesana karena sesuatu hal. Kali ini istimewa, karena ibu saya ingin kembali tinggal di tanah kelahirannya, Jombang, maka kesempatan saya datang lagi di kota Beriman ini, ada lagi. 

Dan, akhirnya hari itu tiba. Tanpa terlalu banyak rencana, saya akhirnya  ketemu dengan beberapa teman alumni satu sekolah di SMA Negeri 2 Jombang. Dulu kami tidak satu kelas. Malah ada beberapa teman, yang marah-marah, karena saya lupa sama sekali dengan dia. Entahlah, memori saya tentang nama dan wajah teman sekolah kok kayak didelesi oleh sesuatu. 

Sempat saya mengira, memori saya ilang karena sebagian otak saya kongslet. Error. Sejak mengalami shock yang cukup dalam, ketika anak kedua saya mendadak dinyatakan sebagai bayi prematur. Aih, nanti saya tulis lebih lengkap tentang hal ini ya. *aah jadi baper T_T

Tetapi, teman saya yang dokter, dan waktu itu datang menjemput saya di rumah ibu di Jombang, berkelakar. Dia mengatakan, bahwa memori yang hilang itu karena instruksi dari otakku sendiri. Katanya, saya memerintahkan otak untuk menghapus memori yang saya anggap tidak penting. Dan hanya menyimpan yang penting. Ah, entahlah, yang penting ketemu mereka dan mereka ingat saya temannya gitu aja deh, hehehe.




 Kopdar semakin menarik, karena dalam pertemuan itu rencananya saya akan Sharing tentang Blogger dan cara membuat BLOG. Antusias teman-teman tentang dunia yang saya geluti sekarang itu bikin hati makin semriwing aja. Seneng gitu. Walaupun pengenalan bloggingnya tak terlalu maksimal karena terbatas waktu, saya optimis bisa terus mengembangbiakkan virus blogging ini ke penjuru Jombang dan sekitarnya. Ayo Jombangers, semangat ndaaa...


That kind of short talk filled my heart enough. Menakjubkan sekali bisa bertemu teman lama. Bertemu nyata. Menyentuh mereka, memeluk, berbicara bertatapan muka. Tidak bisa digantikan dengan ratusan menit chatting di sosial media. Yes, blogger juga manusia euy. Butuh ketemu sesamanya saja, tidak hanya bergaul di dunia maya di depan laptopnya. 

Alhamdulillah, teman saya, menemui saya tanpa syarat apapun. 

Tak ada pertanyaan, saya kerja apa, berkarir apa. Semenakjubkan apa. Ataupun se-gagal apa.

 Kami hanya bertemu, bercerita ngalor-ngidul dan makan aneka rupa. Kalaupun ada cerita yang menyiratkan hal itu, kami sikapi dengan humor dan tertawa lebar. Mungkin, di usia segini, kami sudah bisa menerima jalur hidup masing-masing. 

Mau jadi dokter kek, pustakawan universitas atau ibu Lurah kek. Semua sama. Walaupun juga ada yang menjadi "icon" paling hits di Tembelang, bahkan bos mebel Jombang atau owner olshop tas branded dari Batam pun, semua melebur jadi satu. Bercerita sebagai IBU RUMAH TANGGA.

Tak ada syarat visual apapun juga. Ga pake setting dress code. Celana jins, kaos Coding Mum dan cardigan plus jilbab kucelku pun diterima dengan lapang dada. Walaupun hampir semuanya berbusana muslimah sejati, syar'i dan menawan hati. Saya tidak menerima tatapan sinis atau nyinyir dari ujung kepala ke ujung kaki, seperti yang sering saya terima jika ada dalam lingkungan itu. They don't judge me by my cover :)


Ah teman, semoga kelak bisa sering ke Jombang. Dan menebarkan manfaat disana. Sebagai tanda bakti saya pernah numpang hidup disana ketika SMA. 

Komik LINE Webtoon dan Sex Education Untuk Anak di Rumah

"Ma, aku mau bikin komik di Webtoon ah,"
Begitu kata anak sulung saya di depan bak cuci piring.

Sambil memeras kaos saya yang basah karena kecipratan air kran saat mencuci piring, saya nyengir kuda dan menjawab, "wah asik. Webtoon apa'an sih? bisa dilihat di browser?"

 "Pake LINE ma," gitu jawab anakku. "LINE? kamu donlot LINE sekarang?".

 Ya, tanpa babibubebo saya pun ikutan mendonlot LINE, sebuah messenger yang makin banyak dipakai anak muda. Setelah itu, saya menginstall Webtoon juga.


Ngapain Sih Latah Pake LINE & Webtoon Segala Mak?


 Nggak ada hal yang paling menyeramkan bagi saya, kecuali anak laki-laki saya berada di jalur yang nggak bener. Misalnya merokok, narkoba, kriminalitas ala geng motor dan pornografi sekaligus sex bebas.

Kalau teman lain memilih pasang BENTENG blokade semua akses yang berpotensi "bahaya" untuk anak.

Saya memilih pasang FILTER. Saya rela rempong mengakses hal itu bersama anak, duduk di samping anak, dan jika ada yang kurang benar nantinya akan saya bicarakan bersama anak saya.

Cara saya ini tentu tidak sama dengan teman lain dalam menerapkan sistim parenting. Saya juga tidak membuka akses perdebatan. Karena model parenting itu tidak bisa disamaratakan seperti rumus menghitung sudut bangun datar, harus saklek. Situasi, kondisi, keadaan ekonomi, spiritual, budaya, dan lain sebagainya mempengaruhi gaya parenting keluarga.

Satu hal yang sangat saya pegang kuat adalah bahwa saya tidak bisa menggunakan pola parenting jaman dulu. Dimana antara orang tua dan anak terdapat jarak yang sangat jauh. Tidak bisa curhat, tidak bisa bercanda atau bahkan main bersama.

Kali ini, saya ingin sekali menjadi TEMAN ANAK sampai kapan pun umurnya nanti. Oleh karena itu, di setiap ide atau hal baru yang ingin mereka cicipi, saya ikutan juga nyemplung disana. Kadang rempong juga deh sebenarnya, tapi nggak papalah, demi anak.

Komik Webtoon dan SEX Education

Ketika saya mendengar kata Webtoon, spontan yang terbesit sih ketakutan jangan-jangan disitu banyak komik porno. Jadi, malam itu juga saya nguprek tuh Webtoon. Eh, malah cekikikan dan terkagum-kagum sendiri sih.

Ceritanya banyak yang lucu. Dan gambar komiknya itu loh, alus dan bagus bangeet, kayak komik Si OCONG. . Kok ya mau penulis komik ini susah-susah upload hasil karyanya di Webtoon tanpa dibayar to? amazing deh.
Maklum emak-emak mikirnya udah dagang aja nih, hahaha.

Eh tapi, kata anak saya. Kalau masih di Webtoon Challenge sih, emang gratisan. Tapi kalau komikusnya udah layak standar, maka akan direkrut jadi Komikus Tetap oleh Webtoon, dan itu dapat "gaji". 

Kembali pada kecemasan akan pornografi, saya buka komik berjudul Pengantin Gaje. Wah dari judulnya rada gimana gitu kan? nah pas saya buka, itu ternyata cerita pengantin baru yang mengalami konflik kecil yang lucu-lucu. Memang ada sedikit adegan dewasa, namun sebelum tayang, ada peringatan tertulis bahwa gambar itu untuk UMUR 17 TAHUN KE ATAS. Kalau di klik Lanjut, baru bisa muncul.Tapi adegannya tidak vulgar kok. Saya harapkan memang ada kebijakan sih di Webtoon Indonesia ini, karena saya belum eksplor banyak komik lagi.

Memang, kita nggak akan bisa menjamin anak-anak kecil atau remaja dibawah umur 17 tahun, yang mengakses komik semacam itu, akan menaati aturan. Akan berhenti dan tidak melihat gambar. Nah disinilah pengawasan orang tua dan pendampingan harus dilakukan.

Kalau ada hal begini, biasanya malah saya manfaatkan untuk mengenalkan dan membicarakan tentang SEX EDUCATION.

Hari gini, akses google dan share di sosial media sangat tinggi, mustahil anak kita tidak terpapar hal berbau pornografi. Bahkan jika tidak mengakses pun, akan mendengar dari cerita teman bermainnya, seperti anak saya yang kedua. Saya punya cara yang mengadopsi ilmu parenting dari bu Elly Risman dan beberapa psikolog lainnya. Serta dengan gaya karakter keluarga kami sendiri. Begini strategi saya mengenalkan dan membicarakan SEX EDUCATION ke anak lelaki saya.

  1. Sex education awal adalah mengenali dirinya sendiri. Dan tentang siapa saja yang boleh memegang area tubuh dan tidak. Hal ini ketika anak masih kecil-kecil, sebelum kelas 3 SD.
  2. Sejak kecil saya melarang anak menjadikan guyonan anggota tubuh perempuan. Misalnya tentang "breast", akan saya katakan bahwa itu diciptakan untuk memberikan ASI kepada bayi, sehingga bisa sehat. Bukan untuk ditertawakan. Intinya saya mewajibkan anak lelaki saya menghormati perempuan, bahkan sejak mereka kecil.
  3. Jika ada adegan dewasa seperti "kissing" yang kadang nyelonong di film kartun lucu sekalipun, maka saya tidak mendadak menutup matanya lalu membentak melarang. Jika mereka terlanjur melihat, akan saya bilang, "itu boleh saja kok, asal sudah menikah. Kalau nggak menikah, ya kayak hewan aja di kartun itu bukan manusia."
  4. Ketika anak bertanya tentang hubungan orang dewasa, saya akan menjawabnya ala guru Biologi. Ilmiah aja menjawabnya. Tidak pake cekikikan malu-malu. Atau langsung memutus obrolan dengan bilang, "hush, itu saru, nggak sopan, dosa, diam, kamu jangan aneh-aneh, sekolah aja yang bener!". Saya tidak memilih itu, saya akan menjawab saja, sepotong-sepotong sesuai pertanyaannya. Tidak perlu menjawab sangat detil karena anak belum tentu ngeh dengan pertanyaan dan jawaban kita. Jika mereka tidak bertanya, ya sudah, kita berhenti bicara.
  5. Hal ini wajiib dan saya tekankan berkali-kali. Yaitu, anak wajib cerita apa saja yang terjadi, yang dia lihat, yang bikin dia merasa aneh, takut, senang atau apapun, kepada saya. Supaya jika ada apa-apa, saya bisa segera mengatasi dan mencari jalan keluarnya. 
Itulah sharing cara saya "berbicara" kepada dua anak lelaki saya tentang hal yang dulu sangat "saru" untuk dibicarakan antara anak dan orang tua. Apalagi antara IBU dengan anak lelakinya.

Sempat saya ragu dan bingung, Ternyata tidak ada masalah jika IBU membicarakan hal ini dengan anak lelakinya. Asal sebelumnya kita sudah punya kedekatan batin yang cukup baik. Dan itu memang harus dibina sejak mereka masih kecil. 

Semoga saja, dengan cara ini anak saya bisa mempunyai FILTER yang baik. Sehingga jika kelak misalnya berhadapan dengan lingkungan yang sangat buruk, atau merantau ke luar negeri dan melihat temannya berperilaku sex bebas, mereka bisa menentukan dan menyaring sendiri, mana perbuatan yang baik dan tidak. Tentu dengan koridor TAUHID yang sangat kuat. 

"Kalau nanti kalian keliling kemana-mana, mama sudah nggak bisa lihat dan ngawasi. Tapi Alloh SWT kan selalu bisa melihat kalian, nak. Ingat ya. Malu, kalau kita aneh-aneh. Sama Alloh SWT sudah dikasih tangan, kaki, badan lengkap. Jadi yang baik-baik saja ya. Jadi mandiri lalu bantu orang lain."

Udah, itu itu aja yang saya ulang-ulang bicarakan ke anak-anak. 
Harap maklum juga, saya mah apa atuh. Hanya emak-emak biasa bukan Mamah Dedeh. Ilmu agama saya masih cetek bangeet. Semoga dengan keterbatasan ini itu, saya sudah memberikan tools yang baik dan benar untuk anak di masa depannya. 

Ah, gitu aja ya. Kalau teman-teman gimana ke anak lelakinya? 
Kalau ke anak perempuan gimana ya? makin parno apa kalian ya mak-emaak? 


Kembali ke komik Webtoon, akhirnya inilah hasil karya anak saya yang sulung itu. Nih anak, emang dari kecil suka bikin komik. Webtoon oke juga untuk menyalurkan minat anak yang suka menggambar dan bikin komik. Asal tetap didampingi ya mak emak...



Semoga bermanfaat ya.

Salam,

Heni Prasetyorini

Menabung Emas Agar Masa Depan Anak Tak Lagi Bikin Was-Was

 "what is important for kids to learn is that no matter how much money they have, earn, win, or inherit, they need to know how to spend it, how to save it, and how to give it to others in need. This is what handling money is about, and this is why we give kids an allowance. (Barbara Coloroso)

 Dua anak lelaki saya sudah terbiasa dengan kata hemat, ngirit dan menabunglah dulu jika butuh sesuatu. Garis bawah pada kata "butuh" bukan "ingin". Untuk mendapatkan suatu barang, perlu komunikasi dan kompromi yang panjang antara saya,suami dan anak-anak. Bahkan dengan kebiasaan ini, anak sulung saya lebih parah lagi. Dia supeeer ngirit.

Anak ini rela lapar di sekolahan dan hanya kenyang dari acara makan besar, makan nasi beserta lauk pauknya. Tidak ada acara beli jajan kek, es mambo kek. Pokoknya cuma makan aja. Demi apa? ternyata demi menabung uang jatah bulanannya secara diam-diam.

Saya sebagai emak, antara seneng, bangga juga kuatir.
Seneng dan bangga karena nih anak bakal aman masa depannya. Karena terbiasa menabung dan tidak hura-hura beli hal yang nggak penting. Kuatirnya kalau dia sampai kurus kering demi menahan lapar, untuk bisa menabung.

Konsep hemat yang sudah tertanam ini, sebenarnya hasil didikan dari ibu saya. Apalagi ibu jaman dulu ya, kalau nabung hanya dianjurkan satu hal, menabung emas!

Sebelumnya ya cuma ngikut saran ibu, untuk membeli perhiasan emas lalu memakainya. Sayangnya kadang kan karena pemakaian jadi luntur, juga resiko ilang. Akhirnya setelah mengenal adanya Pegadaian Tabungan Emas di pegadaian.co.id saya mendapatkan alternatif baru cara menabung emas.

dapet juga nih tabungan emas :)
Teman saya yang memberitahukan hal ini. Menarik juga ya konsepnya. Kita menabung uang, nanti disetarakan dengan emas. Kalau mau penarikan tabungan, bisa berupa uang atau berupa emas batangan. Kalau mau ambil bentuk emas batangan, akan ada biaya percetakannya.

Saya pikir, kalau konsep gitu, pasti buka tabungannya mahal seperti bank pada umumnya. Dan males banget kalau tabungan kita lama-lama habis kesedot biaya admin. Eh, ternyata nggak loh. Untuk Pegadaian Tabungan Emas, awalnya cuma habis duit 22 ribu aja. Udah dapet emas senilai 0,0110 gram seharga Rp.5.460,- (kan harga emas mengikuti tren toko emas terbaru juga).

Ah ya, nggak mahal, okelah nanti bisa nabung dikit demi sedikit. Sekitar nabung 50ribuan, waktu longgar, kan lumayan. Nabung dikit-dikit gitu juga nggak khawatir bakal habis kesedot biaya admin. Karena, kata pak petugas tadi nih, biaya admin per bulan itu nggak ada alias NOL rupiah. Hanya ada biaya admin per tahun, cuma 30 ribu aja. Wis sip, mantep lah. Buat nabung sisa belanja, kan aman.


setelah ini, emaknya bisa bekerja dengan lebih tenang
Jadi begitulah, sejak mengenal Tabungan Emas di pegadaian, saya mulai beralih nggak beli emas dalam bentuk perhiasan. Saya pun berencana mengajak anak untuk ikutan ngisi tabungan ini, dari simpenan uang jajannya. Kebetulan nih kantor Pegadaian, dekat banget sama sekolahan anak.

Saya perkirakan, jika satu bulan saya rajin menabung minimal 300 ribu aja. Kelak waktu anak saya yang SD udah mau kuliah, bisa lumayan tuh tabungan saya. Bisa buat bekal dia mau kuliah atau modal bisnisnya.

Pegadaian pasti kinerjanya profesional, jadi bisa dibilang tabungan emas kita aman disana. Proses pencairan juga mudah, jika suatu saat kita butuh. Kalau anda penasaran bisa datang ke kantor cabang Pegadaian terdekat, lalu mintalah informasi tentang hal ini. Pasti dibantu banget. Tempo hari, saya malah dilayani oleh pak satpam. Saya tinggal nyerahin KTP dan uang 22ribu ke beliau. Lalu duduk manis, kemudian dipanggil petugas teller, tanda tangan ini itu, selesai. Cepet nggak pake ribet.

Nah, daripada nabung perhiasan emas di rumah trus kepikiran mending cobain deh Pegadaian Tabungan Emas. Semoga dengan cara ini, apapun kebutuhan keluarga dan anak-anak kita di masa depan, nggak bikin kita was-was.